NEGARA LEMBEK

Negara kita adalah negara lebek. Maksudnya, wawasan etikanya lembek. Hal ini dikarenakan, di negara kita landasan baik dan buruk sering kacau, tidak jelas, yang berbeda dengan negara-negara seperti Amerika yang mempunyai landasan etika yang jelas. Dulu pernah ada satu keguncangan karena para anggota parlemen Amerika mengadakan lawatan ke suatu tempat dengan menggunakan uang yang jumlahnya belasan ribu dollar. Itu saja sudah dipersoalkan. Tapi bagaimana di kita? Milliaran dolar tidak dipersoalkan. Padahal dari segi agama kita sebagai orang Muslim mestinya kuat secara etis. Karena Kitab Suci Al-Qur’an saja disebut al-furqan, artinya pembeda yang tegas antara yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah. Jadi, ini berarti kita kekurangan etika. Padahal, menurut hadist nabi, yang benar dan yang salah itu jelas berbeda, dan antara keduanya ada hal-hal yang syubhat. Dan syubhat baru diketahui setelah jelas mana yang halal dan mana pula yang haram. Kalau semuanya sybhat, itu jelas tidak betul. Tidak ada logikanya.

—ooOoo—

Gunnar Myrdal. Seorang ahli sosio-ekonomi Swedia, pemenang Hadiah Nobel, memasukkan negara kita, INDONESIA, ke dalam kelompok negeri-negeri berkembang, yang ia sebut sebagai kelompok “negara-negara lembek” (soft states). Sebutan itu kurang enak didengar, dan pernah menjadi bahan kontroversi. Tetapi tak ada salahnya menelaah kembali maksud penilaian Myrdal itu sebagai cermin bagi kita, dan meneliti kenyataan-kenyataan yang ada.

Yang dimaksud Myrdal sebagai “lembek” ialah tidak adanya diisplin sosial. DI sini kita membicarakan mengenai kelemahan dan kesewenangan yang bisa, dan malah telah disalah gunakan untuk keuntungan pribadi oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan ekonomi, sosial, politik. Kesempatan penyalahgunaan dalam ukuran besar itu terbuka untuk kelas atasan, tetapi orang dari anak tangga paling bawah pun mendapatkan pula kesempatannya untuk keuntungan-keuntungan kecil. Myrdal menyebut gejala ini sebagai “korupsi”, yang telah begitu mengakar dalam budaya bangsa kita.

JIka benar bahwa untuk setiap keberhasilan tentu ada ongkosnya, maka sebagai salah satu “ongkos” menjadi bangsa merdeka ialah menggantikan tenaga-tenaga sendiri dalam mengatur negeri, dan itu juga berarti pergantian tenaga ahli yang berpengalaman oleh yang kurang ahli dan kurang berpengalaman. Keadaan kurang ahli dan tiadanya pengalaman itu mempunyai akibat mundurnya produktifitas berjalan seiring denagn membengkaknya personalia, dan pada urutannya, diiringi dengan turunnya gaji bila diukur dari nilai riilnya. Digabung dengan kebiasaan menjalankan administrasi “menurut kebijaksanaan”. dan ditambah dengan kaum politisi yang setelah kemerdekaan berkedudukan penting karena memegang kekuasaan, keadaan ini membuka pintu bagi praktik-praktik korupsi. Myrdal secara khusus menyebut negeri kita INDONESIA, yangyang disebutnya bebas dari korupsi di zaman kolonial Belanda, menjadi negeri yang paling korup beberapa saat setelah kemerdekaan.

(TADARUS BUDAYA KELOMPOK CAGER GRESIK Ke-6, Minggu 13 September 2009)

Oleh : Bpk. Choiruz Zimam (Budayawan Gresik, Guru SMAM 1 Gresik)

Sumber : Ensiklopedi Noercholish Madjid, jilid 4, hal. 3104-3105

“DONGENG CINTA”

Aku selalu menyimpan bulir air mata

demi membayar cinta yang tak pernah lunas

demi sudut taman eden

Nun sepanjang tarikan nafas

Ditiap tarian, kutadah peluh menunggu buntat

demi sesaji kebaktian

tanpa piala

tanpa lencana

Inilah dongen air mata

kutulis dengan menggadai rindu dan perih

bersanding syahdu di pelaminan

Inilah dongen cinta

mencanda duka dan luka

dibalik persembunyian sempurna

——–

Siwoer Agts.09

“KELEBAT ELANG LAUT”

Aku denagr suara paraumu

Elang laut membaca gemuruh

Dari kedalaman samudra itu

Seperti sepatu para serdadu

Membangkitkan kenangan itu

Beratus ribu kenangan itu

Teladan yang menguap

Dalam sekejap waktu

Kelpak sayapmu bercerita

Tentang angin luka

Hari-hari penuh kebosanan

Diruntuhkan dirmah-rumah

Para penyair hilang makna

Aku lihat cakar hitammu

Siap menerkam

Gedung yang tumbuh

Dikota yang angkuh

PARA PEMAIN :

Sri Wahyuni (BU UYUN)

Benni

Wanto

Irfan

Agung

“SANG MANDOR”

Adalah masa lalu pelaut sejati yang tanggguh dan mandiri. Sampai di usianya yang renta, ia tak mau dibantu istri dan anak-anaknya. Dalam berjuang untuk bisa kembali duduk di kursi Lambang kejayaan masa lalunya.

Dalam secuplik katanya bahkan dia berucap “UNTUK SEKEDAR PINGSAN PUN AKU HARUS MANDIRI”.

Lantas bagaimana sikap istri dan anak-anaknya? SAma seperti kita? penerus generasi pelaut yang tak punya keteguhan menjaga. APalagi merawat sisa-sisa warisan leluhurnya. Anak-anak sang mandor generasi penjual aset kebanggan yang dicapai leluhurnya.

TADARUS Teater CAGER ini memaknai kembali pesan akhir dari sang mandor.

PEMAIN :

Bambang Hermanto As Sang Mandor

Ika As Istri Mandor

Benny As Anak Ke 1

Irfan As Anak Ke 2

Ana As Anak Ke 3

Ilustrai Sri Wahyuni (BU UYUN)

Artistik Panggung Jalil Dkk

Lampu Waras

Sutradara L. Machali

Kartu_lebaran

Halaman Berikutnya »