Juli 24, 2008
Juli 24, 2008
Juni 13, 2008
BATANG - BATANG
Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.
Aku melihat ke langit. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Ada apa ini ? Ada dimana aku ini ? Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.
Langit memerah kelam, seperti hendak hujan. Sedang aku tak menemukan jejak matahari. Apakah siang ataukah sore. Sementara gagak-gagak di atas, masih asyik menari-nari. Di ujung sana ada juga gerombolan gagak yang telah lahap mencabik-cabik daging entah siapa. Kakiku menuruni lembah tempat aku tersadar. Tsunamikah lagikah? Mataku mencari laut, pantai, gunung. Kenapa tak ada jejak rumah rusak ? Apakah aku satu-satunya yang selamat ? di televisi, dulu, aku lihat bangkai kapal dan bangkai barang-barang besar lainnya tersangkut kemana-mana. Ini hanya tanah yang sangat lapang, ini hanya…………. (more…)
Juni 13, 2008
Seringkali seseorang yang memerankan tokoh pada sebuah pertunjukan pentas teater mendapat kritikan karena permainannya dianggap jelek. Sebenarnya apa saja yang harus dipelajari dan diketahui oleh seseorang sebelum memerankan tokoh karakter di dalam peran. Hakikat seni peran adalah adalah meyakinkan penonton bahwa apa yang tengah dilakukan aktor itu benar dan sudah cukup. Intinya sekali lagi pemain dalam permainan harus mampu meyakinkan penonton.
Alat modal akting aktor adalah tubuh (raga) dan sukma (rasa), itulah yang seharusnya terus menerus diasah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali serta memainkan peran. Untuk itu ada beberapa langkah dan tahapan yang harus diperhatikan, sebagai berikut :
3 LANGKAH MENUJU SIAP RAGA (TUBUH)
1. Melatih kelenturan otot-otot anggota tubuh.
a. Leher, mata, mulut (expresi)’
b. Tangan (jari-jari, pergelangan, lengan, bahu)
c. Kaki (pergelangan lutut, tungkai, langkah)
2. Melatih pernafasan.
a. Bernafas dengan benar
b. Terkontrol
c. Pemupukan energi kreatif
3. Membaca dan mengeja huruf.
a. Membaca (kejelasan kata & suku kata)
b. Mengeja (huruf hidup & huruf mati) (more…)
Juni 12, 2008
Sutradara Terater Sekolah
Di dalam Proses Produksi Pertunjukan
Problem Sutradara Teater Sekolah :
Hampir di seluruh sekolah yang memiliki kegiatan berteater, memiliki problema waktu yang harus dihadapi sutradara di dalam mewujudkan karya pertunjukan garapannya. Baik waktu untuk berlatih atau waktu Dead-Line hari pertunjukan. Apalagi Sutradara teater sekolah adalah guru yang sibuk harus menjalankan tugas mengajar mata pelajaran lain, selain materi kesenian. Oleh karena itu, guru sebagai sutradara teater sekolah dituntut kemampuan di dalam memanage waktu agar tugas mengajar dan menjadi sutradara sebagai tanggung jawabnya masih mampu terus berkarya. Jika tidak, maka Eksistensi Teater Sekolah adalah tetaer musiman. Sayangnya, management teater sekolah belum ada buku panduan yang dapat diterapkan di seluruh sekolah. Oleh karena itu tulisan ini, mencoba menawarkan konsep kerja sutradara dari pengalaman pribadi penulis selama menjadi Sutradara Teater Sekolah. Tak kalah pentingnya, problem pendanaan sekolah yang dialokasikan untuk teater sangat terbatas, juga rekrutmen siswa sebagai pendukung kegiatan teater hanya bersifat ekstra atau sekedar ikut kegiatan saja. Untungnya kegiatan teater sekolah sungguh menyenangkan jika ditangani secara kreatif oleh sutradara yang memahami persoalan kondisi lingkungannya, terutama untuk mendewasakan siswa yang mengiuti teater sekolah. Aplagi ketika sedang melakukan kegiatan produksi.
Kiat Sutradara Memilih Naskah :
Hal yang terpenting untuk menentukan hasil karya, sutradara dituntut kecermatan memilih naskah yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki oleh teater sekolah, dimana sutradara akan bekerja sebagai Directorsnya. Sutradara setidaknya harus mempertimbangkan aspek kesulitan dan keberhasilannya. Memilih naskah haruslah mempertimbangkan biaya produksi yang akan dikeluarkan, kecocokan pemain-pemainnya serta misi sekolah sebagai lembaga pendidikan, agar tak menimbulkan masalah dibelakang harinya. memilih naskah selayaknya mempertimbangkan bahasa dan kekuatan adegan serta dramatiknya. Naskah sendiri akan lebih mudah menggarapnya dan tidak lupa menghadirkan tokoh yang menarik atau unik yang beragam karakternya serta klimaks-klimaks kecilnya. Boleh jadi dikembangkan atau direvisi pada saat di latihan. (more…)



Alamat Sekretariat :
