MONOLOG

BEKAS RIAS DI PANGGUNG

* Profil Pemain

Suliswanto : “Mak Satona”

Lahir di Malang, 2 April 1954

Menggeluti Ludruk sejak duduk di bangku SMA, tahun 1971 dan mendirikan Ludruk Gelora Remaja di Malang. Begitu tamat SMA tahun 1973 bergabung dengan keompok Ludruk Mekarsari. Mendirikan Ludruk Gelora Surabaya ditahun 1978 dan mengisi acara Ludruk di Radio Gelora 10 November RKPD Surabaya. Pernah menyutradarai Ludruk RRI Surabaya selama satu dekade 1980-1988. Tahun 1989 mendirikan Ludruk Garuda, keliling (tobong) hingga tahun 2004. Meraih penghargaan Sutradara terbaik dalam Festival Budaya Jawa Timur 2004 yang digelar oleh dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Jawa Timur. Menyutradarai Ludruk Lintas Generasi binaan Cak Kadaruslan sepanjang tahun 2005-2006. Kini di tengah kesibukannya memanajari Ludruk Supali, dia juga sedang menggubah naskah referensi sari buku-buku sejarah menjadi naskah Ludruk. Salah satunya yang telah rampung adalah kisah Ken Arok.

Mastohir : “Jo Kasmo”

Lahr di Surabaya, 29 September 1946

mengawali kesenian di tahun 1960 dengan bergabung di organisasi Penggemar Seni Teater (pansiter). Pernah kuliah di Fakultas HUkum Universitas Airlangga Surabaya, namun tidak sampai lulus akibat peristiwa G30S/PKI. Sempat menekuni seni lukis di Akademi Seni Rupa Aksera Surabaya (Aksera) 1967-1969. Kemudian terlibat di Srimulat sejak 1966 hingga 2000. Mengikuti pentas berpindah-pindah dari Surabaya, Solo, Semarang dan Jakarta. Turut berperan mulai sebagai penata artistik, pemain, hingga sutradara. Terakhir ikut bermain dalam lakon “Pesta Pencuri” bersama Teater Bengkel Muda Surabaya (2007-2008).

Multato : “Maling”

Lahir di Surabaya, 11 Desember 1948

Nama aslinya adalah Mulyono. Dikenal dengan sapaan Multato karena dulunya sejak 1975 hingga awal tahun 2000-an menggeluti seni tato. Dia telah mengenal dunia teater sejak tahun 1973. Bergabung di Teater Krikil. Di tahun 1980 ikut mendirikan Teater Nuansa hingga tahun 1995. Sempat bergabung dengan Teater Sandradikta selama 1 tahun 1996_1984 sampai sekarang. Dia masih sering diajak tampil bersama kelompok-kelompok teater di Surabaya. Di sela-sela itu juga menyempatkan diri main sinetron yang diproduksi TVRI. Saat ini pekerjaan sehari-harinya adalah tukang cetak disebuah percetakan.

* Sinopsis

Mak Satona

Seorang perempuan tua bekas jadi primadona dipanggung ludruk. Diamana waktu sudah berubah Mak Satona yang sudah tua itu masih jadi bahan pergunjingan para laki-laki yang butuh perhatiannya. Ternyata kemenarikan Mak Satona bukan karena kecantikannya tapi baik budinya. Disitulah keunikan dia memberi sentuhan batin orang yang sedang membutuhkannya.

Jo Kasmo

Jo Kasmo adalah anak panggung yang sedang bergelut dengan kesepiannya diatas panggung Srimulat ketika semua penonton sudah tiada. Dalam mengisi hari tuanya yang sepi ini dia mencoba mengenang lelucon-lelucon konyol yang pernah diungkapkan temannya dipanggung. Dari sinilah dia mulai belajar lagi tentang hidup yang sebenarnya.

Maling

Seorang bapak yang berprofesi sebagai maling tiba-tiba adu mulut dengan anaknya. Pasalnya sang bapak memalingi dan menguras habis harta kekayaan seorang renternir, diamana renternir tersebut calon kuat anggota DPRD. Yang paling celaka anak sang bapak ini adalah tim sukses renternir yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD ini. Darisinilah silang sengketa membuka semua aib dunia permalingan yang sedang diperdebatkan bapak dan anak ini.

* Staf Produksi

Ketua : Zainuri

Sekretaris : Hanif Nashullah

Bendahara : Syaiful Arif

Supervisi : Saiful Hadjar, R. Giryadi, Henky Kusuma, Meimura.

Pemain : Mastohir, Multato, Suliswanto.

Musik : Syaiful Arif, Hanif Nashrullah, Marjangkung, Sukma Ayu, Farincha, Nancy.

Kru : Suyitno, Jon Pa’i.

NEGARA LEMBEK

Negara kita adalah negara lebek. Maksudnya, wawasan etikanya lembek. Hal ini dikarenakan, di negara kita landasan baik dan buruk sering kacau, tidak jelas, yang berbeda dengan negara-negara seperti Amerika yang mempunyai landasan etika yang jelas. Dulu pernah ada satu keguncangan karena para anggota parlemen Amerika mengadakan lawatan ke suatu tempat dengan menggunakan uang yang jumlahnya belasan ribu dollar. Itu saja sudah dipersoalkan. Tapi bagaimana di kita? Milliaran dolar tidak dipersoalkan. Padahal dari segi agama kita sebagai orang Muslim mestinya kuat secara etis. Karena Kitab Suci Al-Qur’an saja disebut al-furqan, artinya pembeda yang tegas antara yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah. Jadi, ini berarti kita kekurangan etika. Padahal, menurut hadist nabi, yang benar dan yang salah itu jelas berbeda, dan antara keduanya ada hal-hal yang syubhat. Dan syubhat baru diketahui setelah jelas mana yang halal dan mana pula yang haram. Kalau semuanya sybhat, itu jelas tidak betul. Tidak ada logikanya.

—ooOoo—

Gunnar Myrdal. Seorang ahli sosio-ekonomi Swedia, pemenang Hadiah Nobel, memasukkan negara kita, INDONESIA, ke dalam kelompok negeri-negeri berkembang, yang ia sebut sebagai kelompok “negara-negara lembek” (soft states). Sebutan itu kurang enak didengar, dan pernah menjadi bahan kontroversi. Tetapi tak ada salahnya menelaah kembali maksud penilaian Myrdal itu sebagai cermin bagi kita, dan meneliti kenyataan-kenyataan yang ada.

Yang dimaksud Myrdal sebagai “lembek” ialah tidak adanya diisplin sosial. DI sini kita membicarakan mengenai kelemahan dan kesewenangan yang bisa, dan malah telah disalah gunakan untuk keuntungan pribadi oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan ekonomi, sosial, politik. Kesempatan penyalahgunaan dalam ukuran besar itu terbuka untuk kelas atasan, tetapi orang dari anak tangga paling bawah pun mendapatkan pula kesempatannya untuk keuntungan-keuntungan kecil. Myrdal menyebut gejala ini sebagai “korupsi”, yang telah begitu mengakar dalam budaya bangsa kita.

JIka benar bahwa untuk setiap keberhasilan tentu ada ongkosnya, maka sebagai salah satu “ongkos” menjadi bangsa merdeka ialah menggantikan tenaga-tenaga sendiri dalam mengatur negeri, dan itu juga berarti pergantian tenaga ahli yang berpengalaman oleh yang kurang ahli dan kurang berpengalaman. Keadaan kurang ahli dan tiadanya pengalaman itu mempunyai akibat mundurnya produktifitas berjalan seiring denagn membengkaknya personalia, dan pada urutannya, diiringi dengan turunnya gaji bila diukur dari nilai riilnya. Digabung dengan kebiasaan menjalankan administrasi “menurut kebijaksanaan”. dan ditambah dengan kaum politisi yang setelah kemerdekaan berkedudukan penting karena memegang kekuasaan, keadaan ini membuka pintu bagi praktik-praktik korupsi. Myrdal secara khusus menyebut negeri kita INDONESIA, yangyang disebutnya bebas dari korupsi di zaman kolonial Belanda, menjadi negeri yang paling korup beberapa saat setelah kemerdekaan.

(TADARUS BUDAYA KELOMPOK CAGER GRESIK Ke-6, Minggu 13 September 2009)

Oleh : Bpk. Choiruz Zimam (Budayawan Gresik, Guru SMAM 1 Gresik)

Sumber : Ensiklopedi Noercholish Madjid, jilid 4, hal. 3104-3105

“DONGENG CINTA”

Aku selalu menyimpan bulir air mata

demi membayar cinta yang tak pernah lunas

demi sudut taman eden

Nun sepanjang tarikan nafas

Ditiap tarian, kutadah peluh menunggu buntat

demi sesaji kebaktian

tanpa piala

tanpa lencana

Inilah dongen air mata

kutulis dengan menggadai rindu dan perih

bersanding syahdu di pelaminan

Inilah dongen cinta

mencanda duka dan luka

dibalik persembunyian sempurna

——–

Siwoer Agts.09

“KELEBAT ELANG LAUT”

Aku denagr suara paraumu

Elang laut membaca gemuruh

Dari kedalaman samudra itu

Seperti sepatu para serdadu

Membangkitkan kenangan itu

Beratus ribu kenangan itu

Teladan yang menguap

Dalam sekejap waktu

Kelpak sayapmu bercerita

Tentang angin luka

Hari-hari penuh kebosanan

Diruntuhkan dirmah-rumah

Para penyair hilang makna

Aku lihat cakar hitammu

Siap menerkam

Gedung yang tumbuh

Dikota yang angkuh

PARA PEMAIN :

Sri Wahyuni (BU UYUN)

Benni

Wanto

Irfan

Agung

Halaman Berikutnya »