Berawal dari beberapa musik ILUSTRASI TEATER yang kemudian di REKONSTRUKSI kembali oleh teman-teman untuk menjadi sebuah pertunjukan musik yang lumayan panjang dan tentunya mempunyai cerita tersendiri lewat bunyi-bunyian yang dihadirkan dari beberapa barang bekas.

Seperti kaleng susu, sarung, papan triplek, rantai, baut panjang, kaleng bekas PESTISIDA, galon, potongan pipa besi dan PER MOBIL truk yang dimodivikasi kemudian diselaraskan dengan Gitar, Harmonika, Terbang, Jidor, Jimbe menjadi sebuah musik yang bercerita tentang kegelisahan MANUSIA, ALAM BESERTA isinya.

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Pementasan Monolog Di Gedung E Lantai 3 Kampus UNISDA Lamongan, Sabtu 31 Januari 2009.

ARMAGEDDON (Danarto)

Alam sudah tak lagi ramah pada manusia. Ataukah manusia yang tak lagi ramah pada alam. Keduanya adalah hubungan sebab akibat. Namun saya pribadi memilih bahwa manusialah yang tak lagi ramah pada alam. Lebih dari seorang Danarto pada pemikiran yang paling dalam menyatakan dalam ARMAGEDDON ini, bahwa manusia adalah pencipta kiamat itu sendiri sebelum TUHAN merealisasikan.

Aktor : Benny L.S

Musik : Jalil, Irvan, Agung, Sakir

Lighting : Tohir

KOstum : Benny L.S

Dokumentasi : Rozak

Pimpinan Produksi : Sri Wahyuni (Bu Uyun)

Konsultan : Lennon Machali


Dataran tandus, dataran kering adalah secuplik kalimat yang diangkat dari naskah itu untuk penggambaran ketika dimana kondisi alam sudah tidak ada lagi keteduhan, keindahan tentang hijau daun pada tumbuhan bahkan pada rumput. Pementasan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam itu mampu membawa kondisi penonton kesebuah peristiwa alam yang mengerikan.

Simbol-simbol yang di hadirkan baik dari olah tubuh dan olah vokal membuat kita berfikir luas tentang pemaknaan sebuah bencana yang tak lain akibat dari ulah manusia itu sendiri.

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Musik Limbah Cager

TUTUP TAHUN GELAR KARYA

“Ekpedisi Laut Senja”

pemain

Produksi Ke 37

Sabtu, 29 November 2008

Aula Diknas P&K Karangturi

Gelar I Pukul 16.00 Wib

Gelar II Pukul 19.00 Wib

(lagi…)

Dewi Musdalifah (acak dewi) pernah menjadi bagian dari kelompok CAGER, baik dalam proses penggarapan naskah drama ataupun tulisan-tulisan puisinya. Ibu dengan 3 anak ini aktifitasnya sekarang sebagai tenaga pengajar di SMU Muhammadiyah 1 Gresik. Belakangan juga mulai membangun blonya sendiri http://acakdewi.blogspot.com/


AIR YANG MENGALIR

Aku menemukan getaran cinta

Lewat mimpi kehilangan

Kelembutannya merasuk jaringan syaraf

Menebarkan keharuman yang melumpuhkan


Langit saga semburatkan pilu

Jalanan berbatu,sarat beban

Tak tajam namun menjebak


Lelehan darah, keringat dan airmata

Menyirami tunas yang tumbuh.

Kasihnya dititipkan dalam detak jantung

Tak berhenti kecuali mati


Kata yang mengharu biru

Lahir dari rahim ketulusan

Tiga kata yang sedehana

Memahat tapaknya dalam jiwa

Ibu.


Gresik,2008

Acak dewi

Tommy Hadi Wijaya : Pernah aktif di kelompok CAGER 2001-2006, Mahasiswa UNTAG (PSIKOLOGI), Karyawan.

Tepat jam delapan malam aku berada berada di sebuah kota kecil, tepatnya di selat sunda. Yang aku tau, kota itu penuh dengan aura ketidak jujuran baik itu pekerjaan, hobby, pendidikan, pemerintahan, dan yang paling parah adalah ketidak jujuran terhadap diri sendiri. Wah……….., alangkah bahagianya aku saat mendapat informasi bahwa kota itu terkenal pula dengan nasi uduknya yang khas. Meskipun bulum cukup dikenal di indonesia, namun, makanan itu sudah cukup basi dibicarakan orang – orang dikota tersebut.

Pucuk dicinta nasipun tiba. Itulah ungkapan yang tepat untuk menuangkan isi hatiku. Maklumlah, perutku sudah cukup gemuk untuk terisi angin. “ gruuuk”……”grukkkk”….. wah,…… alarem dalam perutku sudah berbunyai berkaili – kali, itu adalah pertanda bahwa perutku sudah mulai lapar diantara orang – orang yang lapar. Selain itu, kerongkonganku sudah sangat gersang bagai sawah tanpa pengairan selama setahun. Astaga, aku sendiri hampir tidak mampu untuk membayangkan hal tersebut. Atau hanya keadaan saja yang aku dramatisir. (lagi…)

Halaman Berikutnya »