Juni 2008


BATANG – BATANG

Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.

Aku melihat ke langit. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Ada apa ini ? Ada dimana aku ini ? Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.

Langit memerah kelam, seperti hendak hujan. Sedang aku tak menemukan jejak matahari. Apakah siang ataukah sore. Sementara gagak-gagak di atas, masih asyik menari-nari. Di ujung sana ada juga gerombolan gagak yang telah lahap mencabik-cabik daging entah siapa. Kakiku menuruni lembah tempat aku tersadar. Tsunamikah lagikah? Mataku mencari laut, pantai, gunung. Kenapa tak ada jejak rumah rusak ? Apakah aku satu-satunya yang selamat ? di televisi, dulu, aku lihat bangkai kapal dan bangkai barang-barang besar lainnya tersangkut kemana-mana. Ini hanya tanah yang sangat lapang, ini hanya…………. (lagi…)

Seringkali seseorang yang memerankan tokoh pada sebuah pertunjukan pentas teater mendapat kritikan karena permainannya dianggap jelek. Sebenarnya apa saja yang harus dipelajari dan diketahui oleh seseorang sebelum memerankan tokoh karakter di dalam peran. Hakikat seni peran adalah adalah meyakinkan penonton bahwa apa yang tengah dilakukan aktor itu benar dan sudah cukup. Intinya sekali lagi pemain dalam permainan harus mampu meyakinkan penonton.

Alat modal akting aktor adalah tubuh (raga) dan sukma (rasa), itulah yang seharusnya terus menerus diasah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali serta memainkan peran. Untuk itu ada beberapa langkah dan tahapan yang harus diperhatikan, sebagai berikut :

3 LANGKAH MENUJU SIAP RAGA (TUBUH)
1. Melatih kelenturan otot-otot anggota tubuh.
a. Leher, mata, mulut (expresi)’
b. Tangan (jari-jari, pergelangan, lengan, bahu)
c. Kaki (pergelangan lutut, tungkai, langkah)
2. Melatih pernafasan.
a. Bernafas dengan benar
b. Terkontrol
c. Pemupukan energi kreatif
3. Membaca dan mengeja huruf.
a. Membaca (kejelasan kata & suku kata)
b. Mengeja (huruf hidup & huruf mati) (lagi…)

Sutradara Terater Sekolah
Di dalam Proses Produksi Pertunjukan

Problem Sutradara Teater Sekolah :

Hampir di seluruh sekolah yang memiliki kegiatan berteater, memiliki problema waktu yang harus dihadapi sutradara di dalam mewujudkan karya pertunjukan garapannya. Baik waktu untuk berlatih atau waktu Dead-Line hari pertunjukan. Apalagi Sutradara teater sekolah adalah guru yang sibuk harus menjalankan tugas mengajar mata pelajaran lain, selain materi kesenian. Oleh karena itu, guru sebagai sutradara teater sekolah dituntut kemampuan di dalam memanage waktu agar tugas mengajar dan menjadi sutradara sebagai tanggung jawabnya masih mampu terus berkarya. Jika tidak, maka Eksistensi Teater Sekolah adalah tetaer musiman. Sayangnya, management teater sekolah belum ada buku panduan yang dapat diterapkan di seluruh sekolah. Oleh karena itu tulisan ini, mencoba menawarkan konsep kerja sutradara dari pengalaman pribadi penulis selama menjadi Sutradara Teater Sekolah. Tak kalah pentingnya, problem pendanaan sekolah yang dialokasikan untuk teater sangat terbatas, juga rekrutmen siswa sebagai pendukung kegiatan teater hanya bersifat ekstra atau sekedar ikut kegiatan saja. Untungnya kegiatan teater sekolah sungguh menyenangkan jika ditangani secara kreatif oleh sutradara yang memahami persoalan kondisi lingkungannya, terutama untuk mendewasakan siswa yang mengiuti teater sekolah. Aplagi ketika sedang melakukan kegiatan produksi.

Kiat Sutradara Memilih Naskah :

Hal yang terpenting untuk menentukan hasil karya, sutradara dituntut kecermatan memilih naskah yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki oleh teater sekolah, dimana sutradara akan bekerja sebagai Directorsnya. Sutradara setidaknya harus mempertimbangkan aspek kesulitan dan keberhasilannya. Memilih naskah haruslah mempertimbangkan biaya produksi yang akan dikeluarkan, kecocokan pemain-pemainnya serta misi sekolah sebagai lembaga pendidikan, agar tak menimbulkan masalah dibelakang harinya. memilih naskah selayaknya mempertimbangkan bahasa dan kekuatan adegan serta dramatiknya. Naskah sendiri akan lebih mudah menggarapnya dan tidak lupa menghadirkan tokoh yang menarik atau unik yang beragam karakternya serta klimaks-klimaks kecilnya. Boleh jadi dikembangkan atau direvisi pada saat di latihan. (lagi…)

Posisi dan Problem Penyutradaraan

Teater Pelajar

Oleh Autar Abdillah

Teater Pelajar lebih berkonotasi pada teater sekolah menengah umum maupun kejuruan (SMP/MTs; SMU/MA; SMK). Di samping teater pelajar, juga dikenal istilah teater remaja yang lebih berkonotasi pada teater kalangan SMU/MA maupun SMK. Namun demikian, teater remaja bukan semata-mata kalangan sekolah. Mereka juga kalangan yang putus sekolah atau yang berada pada tingkat usia remaja, atau di bawah dua puluh tahunan.

Entah sejak kapan nama teater pelajar ini muncul, dan untuk apa pula penamaan semacam ini digunakan. Namun yang pasti, teater pelajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pertumbuhan teater itu sendiri. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas RI) –dalam hal ini Pusat Perbukuan, bekerjasama dengan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) bahkan sedang merancang buku pelajaran teater untuk SMP/MTs; SMU/MA; dan SMK, baik negeri maupun swasta.

Apabila kita menilik ke belakang, kalangan terpelajar Indonesia masa lalu, atau setidaknya era Boedi Oetomo, telah mulai melakukan berbagai upaya transformatif. Embrionya dimulai dengan munculnya “Komedi Stamboel” di akhir abad sembilan belas, rombongan kedua teater ini muncul di Surabaya pada 1891. Kegairahan terhadap teater, khususnya teater yang bernuansa melayu sedemikian besar. Namun demikian, teater-teater rakyat yang muncul lebih dahulu dengan media tutur dan berkembang ke dunia panggung teater, tidak pernah luntur. Bahkan, teater-teater rakyat tersebut mampu menciptakan persaingan yang sehat, hingga zaman keemasannya pada 1920-1930-an.

Dalam memasuki abad kedua puluh, juga diwarnai munculnya teater opera Cina pada 1909. Nasibnya tak lebih baik dengan Komedi Stamboel yang mulai melemah dengan lahirnya kegairahan baru dalam memahami idiom maupun metode teater yang datang dari Rusia dan Inggris, bahkan Jerman, Perancis, Amerika dan negara-negara Skandinavia pun turut menyumbangkan pandangan-pandangan baru teater selanjutnya. Dengan demikian, kalangan terpelajar Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan Belanda maupun Jepang memiliki banyak kesempatan memahami berbagai disiplin maupun pandangan teater. (lagi…)

Assalamu`alaikum Wr.Wb
Aku adalah sahabat Cager yang pernah pula dilahirkan dari rahim Kelompok ini, setelah tumbuh dan menghilang masih bolehkah aku menorehkan sesuatu …. ??

DEMONTRASI PAGI INI

Jatuh cinta

Bertemu dengan sahabat lama,Tempat aku gila – gilaan,
Tak ada tabir, tak ada dusta, pemenuhan kerinduan yang terlampiaskan
Kelembutan tak sampai padaku, hati ini hamparan tanah gersang dan kasar.
Rumah tak lagi banyak cahaya, temboknya dihinggapi laba – laba memburamkan relung nurani.
Cinta, Anugrah tertinggi dari Allah merasakan manis, sakitnya dan kesegaran otak yang menyemburkan hamparan kesadaran dan ketajaman perasaan perlahan – lahan tumbuh, berkembang dan berbunga indah.
Penyadaran dengan tumpahan isi hati membuahkan catatan terdalam, mengalirkan darah ke otak diteruskan ke nadi memompa energi yang teryakini mampu membersikan pikiran dan perasaan kembali bening.

Tergila-gila


Kekasih yang terdiam memendam perasaan, sisa rahasia malam
Perguliran rasa menyisakan tanya kemana hilangnya kelembutan lewat persentuhan malam ini. Geliat terpenjara dari waktu ke waktu, harus ada kata yang meluncur diatas air es ini hingga mengguratkan tulisan nyata. Apa yang terjadi ? rasa sesal perlahan menyelamatkan dunia yang terasingkan. kekasih tersungkur dalam dekapan dan mengalirkan muara airmata yang tak pernah sampai pada lautan kepongahan. Aku mendesah dalam kelamnya malam.
Lenganmu yang kokoh selalu mengajarkan padaku berbuat ikhlas dan merebut waktu yang teraniaya oleh kesombongan dan arogan dari seorang kekasih. aku berharap cinta sampai padaku lewat kemarau yang aku jelajahi.
Malam ini aku ingin berada dalam naunganmu dan bersembunyi dalam nikmatnya alunan kecapi yang tertiup selalu untukku.

(lagi…)

Halaman Berikutnya »