Agustus 2008


DI ATAS AKAR

Di pujuk pinang bergelayut impian

Kanan cahaya menggugah, Kiri api membakar

Aku diatas akar tak mampu memandang keduanya

Diganduli gumpalan tanah, Aku merangsek menaikinya

Batang rapuh dilumuri jelagah dosa, persengkokolan nafsu yang terpeluk erat

Merambat seperti bayi mencari celah, dalam bayang cermin, wajahku menghitam.

Mimpi kubasuh jelaga dengan warna putih, memutari mata, hidung, pipi dan terakhir garis bibirku.

Terus kukejar makna, pelabuhan cahaya mendekatlah ,aku ingin berenang meneguk airnya dalam kerongkongan, kusimpan dalam labirin, tak akan tumpah lagi

Gejolak menjemput dan mengikat alunan surgawi.

Kupanjat dengan kekuatan air mata, mengucur, menghalau kekuatan jahat,

Buah pinang yang memerah akan kuluruhkan.

Dari tulang rusuk ini aku memompa darah

Tersungkur tubuh membenamkan arogan

Kaki amblas ditarik kekuatan bumi

Samudra sampai…sampailah aku padamu

Hingga hanyut mengantarku pada pucuk pinang

Yang berhadiah cahaya

Subhanallah, Allah Maha Kasih.

Gresik, 2008

Acak dewi

BIDADARI

Aku seorang ibu. Aku bekerja tiga perempat bulan. Bukan bulan yang biasa kita temui malam hari. Tapi Bulan yang mengajari kita berhitung,1,2,3 sampai 31.

 

Pagi dimulai berkejaran dengan matahari, melawan  dingin dan kantuk aku mengusung berbagai benda diruangan yang  terlempar dari keranjang mainan. Piring bergesekan meminta perhatian karena   risih semalam menanggung kotoran. Aku mengambil corong dan mulai memperdengarkan suaraku ketelinga tiga dara  yang masih terlelap. Tiga dara yang selalu membuat aku senewen karena tak pernah mampu menembus ruang mimpi mereka. aku bersuara kali ini lebih mirip ribuan tawon  yang menyerang musuhnya, berdengung dan menyengat.

 

Perlahan tiga dara mulai menunjukan reaksi. Yang paling peka adalah si kancil Assyah  meliuk-liukan tubuh mungilnya, tapi ketika kakinya terbentur benda  didekatnya maka benda itu diraih dan dipeluknya  kembali berlayar melanjutkan petualangan. Aku mendengus karena tak berhasil menariknya keluar.

(lagi…)