September 2008


Tadarus Budaya CAGER yang ke-5 ini sebagai prasasat manusia untuk kembali dalam peran kekhalifahan di bumi. Menjaga interaksi sosial dengan saling menghormati dan melindungi hak hidup sesama manusia dan menjaga interaksi saling menghormati dan melindungi hak hidup sesama makhluk Tuhan.

Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.

Aku melihat ke langit. Tampak kelabu kemerahan. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.

(lagi…)

Kala itu

Aku saksikan kebesaranMu melalakku

Padahal biasanya, ingkar yang menyamar

Akrab selalu berbisik mesra di telinga

Aku digetar cinta yang membahana

Disemi ampunan yang tiba-tiba menyeruak

Antara alpa, dosa dan khianat

Antara alpa, dosa dan khianat,

Maka bertanyalah hatiku ;

Kini dimana kau kan berpijak ?

Kini kepada siapa kau berseru ?

Kini suara apa yang kau teriak ?

Kini kau sedang menuju

Robmu yang Maha Agung

Hingga getarannya tak mungkin lagi terkhianati,

Maka ketika manusia bicara setia,

Kini dimanakah ia ?

Maka ketika manusia bicara cinta,

Apakah benar adanya ?

Bukankah Akulah sang Cinta

Bukankah Akulah sang Setia

Bukankah Akulah sang Maha

Maka apakah kau wahai manusia

Bukankah banyak sudah Kuasa

Aku ceritakan lewat bencana dan derita saudara-saudara kalian

Bukankah Cinta dan Setia selalu aku ceritakan lewat tragedy demi tragedy

Dari masa ke masa

Maka siapakah kau manusia

Hingga semena-mena menampar muka Kuasa sang Maha

Maka rasalah cinta dan setia yang kau janji-janjikan manusia, kini hadapkanlah padaKu

Sang Maha Cinta, Sang Maha Setia

Ruh Ila Ruh

S.A. 07/01/05 (lagi…)