Diskusi


Seringkali seseorang yang memerankan tokoh pada sebuah pertunjukan pentas teater mendapat kritikan karena permainannya dianggap jelek. Sebenarnya apa saja yang harus dipelajari dan diketahui oleh seseorang sebelum memerankan tokoh karakter di dalam peran. Hakikat seni peran adalah adalah meyakinkan penonton bahwa apa yang tengah dilakukan aktor itu benar dan sudah cukup. Intinya sekali lagi pemain dalam permainan harus mampu meyakinkan penonton.

Alat modal akting aktor adalah tubuh (raga) dan sukma (rasa), itulah yang seharusnya terus menerus diasah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali serta memainkan peran. Untuk itu ada beberapa langkah dan tahapan yang harus diperhatikan, sebagai berikut :

3 LANGKAH MENUJU SIAP RAGA (TUBUH)
1. Melatih kelenturan otot-otot anggota tubuh.
a. Leher, mata, mulut (expresi)’
b. Tangan (jari-jari, pergelangan, lengan, bahu)
c. Kaki (pergelangan lutut, tungkai, langkah)
2. Melatih pernafasan.
a. Bernafas dengan benar
b. Terkontrol
c. Pemupukan energi kreatif
3. Membaca dan mengeja huruf.
a. Membaca (kejelasan kata & suku kata)
b. Mengeja (huruf hidup & huruf mati) (lagi…)

Sutradara Terater Sekolah
Di dalam Proses Produksi Pertunjukan

Problem Sutradara Teater Sekolah :

Hampir di seluruh sekolah yang memiliki kegiatan berteater, memiliki problema waktu yang harus dihadapi sutradara di dalam mewujudkan karya pertunjukan garapannya. Baik waktu untuk berlatih atau waktu Dead-Line hari pertunjukan. Apalagi Sutradara teater sekolah adalah guru yang sibuk harus menjalankan tugas mengajar mata pelajaran lain, selain materi kesenian. Oleh karena itu, guru sebagai sutradara teater sekolah dituntut kemampuan di dalam memanage waktu agar tugas mengajar dan menjadi sutradara sebagai tanggung jawabnya masih mampu terus berkarya. Jika tidak, maka Eksistensi Teater Sekolah adalah tetaer musiman. Sayangnya, management teater sekolah belum ada buku panduan yang dapat diterapkan di seluruh sekolah. Oleh karena itu tulisan ini, mencoba menawarkan konsep kerja sutradara dari pengalaman pribadi penulis selama menjadi Sutradara Teater Sekolah. Tak kalah pentingnya, problem pendanaan sekolah yang dialokasikan untuk teater sangat terbatas, juga rekrutmen siswa sebagai pendukung kegiatan teater hanya bersifat ekstra atau sekedar ikut kegiatan saja. Untungnya kegiatan teater sekolah sungguh menyenangkan jika ditangani secara kreatif oleh sutradara yang memahami persoalan kondisi lingkungannya, terutama untuk mendewasakan siswa yang mengiuti teater sekolah. Aplagi ketika sedang melakukan kegiatan produksi.

Kiat Sutradara Memilih Naskah :

Hal yang terpenting untuk menentukan hasil karya, sutradara dituntut kecermatan memilih naskah yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki oleh teater sekolah, dimana sutradara akan bekerja sebagai Directorsnya. Sutradara setidaknya harus mempertimbangkan aspek kesulitan dan keberhasilannya. Memilih naskah haruslah mempertimbangkan biaya produksi yang akan dikeluarkan, kecocokan pemain-pemainnya serta misi sekolah sebagai lembaga pendidikan, agar tak menimbulkan masalah dibelakang harinya. memilih naskah selayaknya mempertimbangkan bahasa dan kekuatan adegan serta dramatiknya. Naskah sendiri akan lebih mudah menggarapnya dan tidak lupa menghadirkan tokoh yang menarik atau unik yang beragam karakternya serta klimaks-klimaks kecilnya. Boleh jadi dikembangkan atau direvisi pada saat di latihan. (lagi…)

Posisi dan Problem Penyutradaraan

Teater Pelajar

Oleh Autar Abdillah

Teater Pelajar lebih berkonotasi pada teater sekolah menengah umum maupun kejuruan (SMP/MTs; SMU/MA; SMK). Di samping teater pelajar, juga dikenal istilah teater remaja yang lebih berkonotasi pada teater kalangan SMU/MA maupun SMK. Namun demikian, teater remaja bukan semata-mata kalangan sekolah. Mereka juga kalangan yang putus sekolah atau yang berada pada tingkat usia remaja, atau di bawah dua puluh tahunan.

Entah sejak kapan nama teater pelajar ini muncul, dan untuk apa pula penamaan semacam ini digunakan. Namun yang pasti, teater pelajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan pertumbuhan teater itu sendiri. Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas RI) –dalam hal ini Pusat Perbukuan, bekerjasama dengan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP) bahkan sedang merancang buku pelajaran teater untuk SMP/MTs; SMU/MA; dan SMK, baik negeri maupun swasta.

Apabila kita menilik ke belakang, kalangan terpelajar Indonesia masa lalu, atau setidaknya era Boedi Oetomo, telah mulai melakukan berbagai upaya transformatif. Embrionya dimulai dengan munculnya “Komedi Stamboel” di akhir abad sembilan belas, rombongan kedua teater ini muncul di Surabaya pada 1891. Kegairahan terhadap teater, khususnya teater yang bernuansa melayu sedemikian besar. Namun demikian, teater-teater rakyat yang muncul lebih dahulu dengan media tutur dan berkembang ke dunia panggung teater, tidak pernah luntur. Bahkan, teater-teater rakyat tersebut mampu menciptakan persaingan yang sehat, hingga zaman keemasannya pada 1920-1930-an.

Dalam memasuki abad kedua puluh, juga diwarnai munculnya teater opera Cina pada 1909. Nasibnya tak lebih baik dengan Komedi Stamboel yang mulai melemah dengan lahirnya kegairahan baru dalam memahami idiom maupun metode teater yang datang dari Rusia dan Inggris, bahkan Jerman, Perancis, Amerika dan negara-negara Skandinavia pun turut menyumbangkan pandangan-pandangan baru teater selanjutnya. Dengan demikian, kalangan terpelajar Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan Belanda maupun Jepang memiliki banyak kesempatan memahami berbagai disiplin maupun pandangan teater. (lagi…)

PEMBACAAN PUISI & DISKUSI

Oleh :

SAUT SITUMORANG

Hari :
jum’at
Jam :
19.30 – Selesai
Tempat :
Stasiun Lama Blandongan (Gresik)
Belakang Kantor Kelurahan
Saut Situmorang adalah sosok seniman yang terlahir 29 Juni 1966 di kota kecil Tebing Tinggi, Sumatera Utara, tapi dibesarkan sebagai “anak kolong” di Medan. Pendidikan terakhir S1 (Sastra Inggris, Film, dan Creative Writing) dan S2 (Satra Indonesia [tidak selesai] ) dilakukannya di Selandia baru. mengajar Bahasa dan
Sastra Indonesia selama beberapa tahun di almamaternya, Victoria University of Wellington dan University of Auckland di Selandia Baru.
Banyak sekali hasil karyanya baik Puisi, Cerpen, Esai yang sudah di piblikasikan di Indonesia, Selandia Baru, Australia, dan Italia. Antaralain dalam Ginger Sturdust, Anthology of New Zeland Haiku dan sebagainya.

 

 

Depan          Diskusi

Copyright © kelompok Cager Gresik

Minggu, 30 Desember 2007

Pemateri : Henri Nurcahyo

lakone-ok.jpgLahir di Lamongan 22 Januari 1959, pernah sekolah formal di FKH (Fakultas Kedokteran Hewan) UGM Jogjakarta, terjun berkesenian sejak tahun 1977, aktif di LSM kebudayaan dan lingkungan sejak tahun 1979, menulis di banyak media massa sejak tahun 1979 dan pernah menjadi wartawan/redaktur di Harian Memorandum, Surabaya Post, Jakarta-Jakarta, Tabloid Agrobis, Tabloid Bromo, dan Tabloid Mania serta Koran Metro, Tabloid Trend Hobi dan majalah Kembang. Terakhir menjadi pemimpin redaksi media on-line Yayasan AirPutih Jakarta yang berurusan dengan bencana, dan mendirikan Majalah GREEN Hobby. Pernah menjadi juara lomba karya tulis jurnalistik sebanyak 9 (sembilan) kali dalam berbagai bidang. Menulis banyak artikel kesenian di berbagai kesempatan (koran, majalah dan katalog pameran serta makalah sarasehan), dan aktivitas terakhirnya dalam lembaga Dewan Kesenian Sidoarjo dan Lembaga Ekologi Budaya (Elbud) serta Yayasan Titah Sari Bening (YTSB) Mojokerto. Buku yang pernah terbit antara lain: Memberdayakan Masyarakat Pedesaan, Ah Cuma Sketsa, Seni Lukis Surabaya, Keramik Sebagai Media Ekspresi Seni, Ambang Cakrawala (Monografi Seni Lukis Amang Rahman) – bersama Mamannoor, Koempoel The Maestro. Tahun 2001, mendapat Penghargaan Seni Budaya dari Gubernur Jawa Timur (sebagai penggerak kesenian bidang penulisan).


Refleksi Peristiwa Kesenian di Jawa Timur Tahun 2007

PERISTIWA kesenian apakah yang telah terjadi sepanjang tahun 2007 di Jawa Timur? Beberapa peristiwa yang teringat adalah; Surabaya International Performing Art (SIPA), Pameran Lukisan Biennale Jatim di Taman Budaya Jatim, pentas teater monolog “Sarimin” Butet Kertaradjasa, pentas tari teater dari Sulsel, Festival Kesenian Rakyat bulanan di Restoran Kahyangan, Festival Cak Durasim (FCD), Festival Seni Surabaya (FSS), Festival Seni Kawasan Selatan, Pameran Lukisan Jatim Bang Wetan, Festival Budaya Adhikara di Malang, dan sejumlah peristiwa kesenian lainnya. (lagi…)

Halaman Berikutnya »