Kliping


Sabtu, 06 Oktober 2007

TADARUS BUDAYA KELOMPOK CAGER GRESIK
“Kearifan Dalam Bencana”

LATAR BELAKANG
Sebuah tradisi mendarus dinamika lakon manusia dalam mengisi kehidupan dan hidup. Menjalankan peran diri ketika menjumpai peristiwa demi peristiwa, sebagai hasil olah karya manusia, dalam mengembangkan diri, sehingga turut memberi pengaruh pada eksistensi. Alam sebagai ekosistem. Peristiwa mengalami proses, bencana, baik alam maupun industri, atau kemanusiaan merupakan jalinan kewajaran duniawi. (lagi…)

Rabu, 07 November 2007

Limbah Cager, Grup Musik dengan Instrumen Limbah Pabrik
Ciptakan Lagu tentang Kecelakaan Kerja
Grup musik Limbah Cager kini mewarnai khazanah kesenian Kota Santri Gresik. Komunitas pemusik unik itu muncul dengan instrumen musik dari limbah pabrik. Lirik-lirik lagunya pun sarat kritik.
CHUSNUL CAHYADI, Gresik

Kepadatan industri tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi penduduk Kabupaten Gresik. Bising mesin pabrik dan kepulan asap dari cerobong tidak hanya menjadi polutan. Bagi personel grup Limbah Cager, denyut industri -beserta dampak negatif dan positifnya- bisa menjadi inspirasi dalam seni musik. (lagi…)

Rabu, 19 Juli 2006

Musik Limbah di Balai Pemuda

Musik tidak hanya dihasilkan dari alat-alat musik konvensional. Botol bekas kemasan air mineral dan barang-barang bekas lain bisa menghasilkan musik indah. Grup Cager dari Gresik dan Aliansi Seni Surabaya mengolah suara pelbagai barang menjadi musik di halaman Balai Pemuda Surabaya, Selasa (18/7) malam.

Selain mengeksplorasi barang bekas, Aliansi Seni yang dimotori musisi Solichin Jabbar juga mengolah suara gesekan balon dalam Gelembung-gelembung Paranoid. Suara gesekan balon dengan kulit menjadi unsur utama. (lagi…)

Rabu, 29 Maret 2006

Forum Transit (FT) yang menyajikan dua meteri, pemutaran film dokumentar Kampung Maut (KM) karya Juslifar M Yunus dan Teater Cager (TC) dari Gresik dengan lakon Split, mendapat apresiasi yang berbeda. Film KM yang diputar di Taman Budaya Jatim (TBJ), Selasa (28/3), lebih banyak mendapat tanggapan. Sementara TG, direspon dingin bahkan ceritanya dinilai membingungkan.

Film KM, mengangkat kisah masyarakat pinggiran yang hidup berdampingan dengan rel kereta api (KA), kawasan Dupak Magersari atau lakang kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Flm dibuka dengan penampilan seorang anak laki-laki berlari di epanjang rel. Kemudian dilanjutkan gambaran anak-anak sedang salat di sebuah mushala. Sepatu dan sandal tersusun hingga mendekati rel. Ketika salat selesai, mereka langsung berhamburan menuju rel KA yang memang berada di tengah perkampungan anak-anak tersebut tinggal. Adegan lainnya yang membuat “miris”, ketika pagi datang. Sepanjang rel menjadi pasar tradisional. Begitu KA lewat, orang di pasar menyingkirkan dan pedagang mengamankan jualannya dari gilasan kereta. Film berdurasi 15 menit ini juga menceritakan seorang anak laki-laki yang cacat karena kakinya tergilas kereta saat kecil. (lagi…)

Rabu, 29 Maret 2006

SURABAYA-Dalam menjalani hidup, orang selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Dan salah satu indikator kesuksesan hidup adalah sejauh mana orang tersebut menjatuhkan pilihan dengan pikiran jernih. Itulah salah satu pesan yang diusung Teater Cager, Gresik, dalam pentas Split/Belah di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), kemarin.

Bersama Yuslifar M. Yunus, sineas Surabaya, Teater Cager mengisi acara Transit Forum yang sudah digelar keempat kalinya. Pada even itu, Yuslifar menampilkan film dokumenter bertajuk Kampong Maut. Ini bercerita tentang kehidupan sebuah kampung di dekat rel kereta api. (lagi…)

Halaman Berikutnya »