Kumpulan cerpen


Tommy Hadi Wijaya : Pernah aktif di kelompok CAGER 2001-2006, Mahasiswa UNTAG (PSIKOLOGI), Karyawan.

Tepat jam delapan malam aku berada berada di sebuah kota kecil, tepatnya di selat sunda. Yang aku tau, kota itu penuh dengan aura ketidak jujuran baik itu pekerjaan, hobby, pendidikan, pemerintahan, dan yang paling parah adalah ketidak jujuran terhadap diri sendiri. Wah……….., alangkah bahagianya aku saat mendapat informasi bahwa kota itu terkenal pula dengan nasi uduknya yang khas. Meskipun bulum cukup dikenal di indonesia, namun, makanan itu sudah cukup basi dibicarakan orang – orang dikota tersebut.

Pucuk dicinta nasipun tiba. Itulah ungkapan yang tepat untuk menuangkan isi hatiku. Maklumlah, perutku sudah cukup gemuk untuk terisi angin. “ gruuuk”……”grukkkk”….. wah,…… alarem dalam perutku sudah berbunyai berkaili – kali, itu adalah pertanda bahwa perutku sudah mulai lapar diantara orang – orang yang lapar. Selain itu, kerongkonganku sudah sangat gersang bagai sawah tanpa pengairan selama setahun. Astaga, aku sendiri hampir tidak mampu untuk membayangkan hal tersebut. Atau hanya keadaan saja yang aku dramatisir. (lagi…)

Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.

Aku melihat ke langit. Tampak kelabu kemerahan. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.

(lagi…)

BIDADARI

Aku seorang ibu. Aku bekerja tiga perempat bulan. Bukan bulan yang biasa kita temui malam hari. Tapi Bulan yang mengajari kita berhitung,1,2,3 sampai 31.

 

Pagi dimulai berkejaran dengan matahari, melawan  dingin dan kantuk aku mengusung berbagai benda diruangan yang  terlempar dari keranjang mainan. Piring bergesekan meminta perhatian karena   risih semalam menanggung kotoran. Aku mengambil corong dan mulai memperdengarkan suaraku ketelinga tiga dara  yang masih terlelap. Tiga dara yang selalu membuat aku senewen karena tak pernah mampu menembus ruang mimpi mereka. aku bersuara kali ini lebih mirip ribuan tawon  yang menyerang musuhnya, berdengung dan menyengat.

 

Perlahan tiga dara mulai menunjukan reaksi. Yang paling peka adalah si kancil Assyah  meliuk-liukan tubuh mungilnya, tapi ketika kakinya terbentur benda  didekatnya maka benda itu diraih dan dipeluknya  kembali berlayar melanjutkan petualangan. Aku mendengus karena tak berhasil menariknya keluar.

(lagi…)

BATANG – BATANG

Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.

Aku melihat ke langit. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Ada apa ini ? Ada dimana aku ini ? Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.

Langit memerah kelam, seperti hendak hujan. Sedang aku tak menemukan jejak matahari. Apakah siang ataukah sore. Sementara gagak-gagak di atas, masih asyik menari-nari. Di ujung sana ada juga gerombolan gagak yang telah lahap mencabik-cabik daging entah siapa. Kakiku menuruni lembah tempat aku tersadar. Tsunamikah lagikah? Mataku mencari laut, pantai, gunung. Kenapa tak ada jejak rumah rusak ? Apakah aku satu-satunya yang selamat ? di televisi, dulu, aku lihat bangkai kapal dan bangkai barang-barang besar lainnya tersangkut kemana-mana. Ini hanya tanah yang sangat lapang, ini hanya…………. (lagi…)

Kamar Hitam

Aku masih di sebuah rumah, dalam kamar yang daun jendelanya terbuka satu saja. Separoh ditutup dengan gordyn. Di mataku selarik warna jingga hinggap begitu lama. Ia menari bersama kedipan mataku yang memandang entah apa. Sesekali ia juga berjingkat ketika mataku memicing sebelah atau dua-duanya, agak panas, tapi tak ada air mata yang membilas mataku yang perih, panas.

Di pintu no 2 suara ibu di dapur sedang memasak. Seperti menggoreng sesuatu. Entah sejak kapan, aku masih mendengar gemericak minyak kena panas api. Sementara bapak keras-keras memanggilku dengan suara yang seperti bukan memanggilkan namaku. Dia memanggilku lewat loncatan-loncatan suara seperti suara orang mengaji di speaker. Dengan sengaja menekankan kata-kata tertentu yang aku tak pernah paham artinya bila tidak menyimak pelan-pelan. Tidak berguna, buang-buang uang, sia-sai waktu, entah. Apa maksudnya. (lagi…)

Halaman Berikutnya »