Kumpulan Puisi


“DONGENG CINTA”

Aku selalu menyimpan bulir air mata

demi membayar cinta yang tak pernah lunas

demi sudut taman eden

Nun sepanjang tarikan nafas

Ditiap tarian, kutadah peluh menunggu buntat

demi sesaji kebaktian

tanpa piala

tanpa lencana

Inilah dongen air mata

kutulis dengan menggadai rindu dan perih

bersanding syahdu di pelaminan

Inilah dongen cinta

mencanda duka dan luka

dibalik persembunyian sempurna

——–

Siwoer Agts.09

“KELEBAT ELANG LAUT”

Aku denagr suara paraumu

Elang laut membaca gemuruh

Dari kedalaman samudra itu

Seperti sepatu para serdadu

Membangkitkan kenangan itu

Beratus ribu kenangan itu

Teladan yang menguap

Dalam sekejap waktu

Kelpak sayapmu bercerita

Tentang angin luka

Hari-hari penuh kebosanan

Diruntuhkan dirmah-rumah

Para penyair hilang makna

Aku lihat cakar hitammu

Siap menerkam

Gedung yang tumbuh

Dikota yang angkuh

PARA PEMAIN :

Sri Wahyuni (BU UYUN)

Benni

Wanto

Irfan

Agung

Dewi Musdalifah (acak dewi) pernah menjadi bagian dari kelompok CAGER, baik dalam proses penggarapan naskah drama ataupun tulisan-tulisan puisinya. Ibu dengan 3 anak ini aktifitasnya sekarang sebagai tenaga pengajar di SMU Muhammadiyah 1 Gresik. Belakangan juga mulai membangun blonya sendiri http://acakdewi.blogspot.com/


AIR YANG MENGALIR

Aku menemukan getaran cinta

Lewat mimpi kehilangan

Kelembutannya merasuk jaringan syaraf

Menebarkan keharuman yang melumpuhkan


Langit saga semburatkan pilu

Jalanan berbatu,sarat beban

Tak tajam namun menjebak


Lelehan darah, keringat dan airmata

Menyirami tunas yang tumbuh.

Kasihnya dititipkan dalam detak jantung

Tak berhenti kecuali mati


Kata yang mengharu biru

Lahir dari rahim ketulusan

Tiga kata yang sedehana

Memahat tapaknya dalam jiwa

Ibu.


Gresik,2008

Acak dewi

Kala itu

Aku saksikan kebesaranMu melalakku

Padahal biasanya, ingkar yang menyamar

Akrab selalu berbisik mesra di telinga

Aku digetar cinta yang membahana

Disemi ampunan yang tiba-tiba menyeruak

Antara alpa, dosa dan khianat

Antara alpa, dosa dan khianat,

Maka bertanyalah hatiku ;

Kini dimana kau kan berpijak ?

Kini kepada siapa kau berseru ?

Kini suara apa yang kau teriak ?

Kini kau sedang menuju

Robmu yang Maha Agung

Hingga getarannya tak mungkin lagi terkhianati,

Maka ketika manusia bicara setia,

Kini dimanakah ia ?

Maka ketika manusia bicara cinta,

Apakah benar adanya ?

Bukankah Akulah sang Cinta

Bukankah Akulah sang Setia

Bukankah Akulah sang Maha

Maka apakah kau wahai manusia

Bukankah banyak sudah Kuasa

Aku ceritakan lewat bencana dan derita saudara-saudara kalian

Bukankah Cinta dan Setia selalu aku ceritakan lewat tragedy demi tragedy

Dari masa ke masa

Maka siapakah kau manusia

Hingga semena-mena menampar muka Kuasa sang Maha

Maka rasalah cinta dan setia yang kau janji-janjikan manusia, kini hadapkanlah padaKu

Sang Maha Cinta, Sang Maha Setia

Ruh Ila Ruh

S.A. 07/01/05 (lebih…)

DI ATAS AKAR

Di pujuk pinang bergelayut impian

Kanan cahaya menggugah, Kiri api membakar

Aku diatas akar tak mampu memandang keduanya

Diganduli gumpalan tanah, Aku merangsek menaikinya

Batang rapuh dilumuri jelagah dosa, persengkokolan nafsu yang terpeluk erat

Merambat seperti bayi mencari celah, dalam bayang cermin, wajahku menghitam.

Mimpi kubasuh jelaga dengan warna putih, memutari mata, hidung, pipi dan terakhir garis bibirku.

Terus kukejar makna, pelabuhan cahaya mendekatlah ,aku ingin berenang meneguk airnya dalam kerongkongan, kusimpan dalam labirin, tak akan tumpah lagi

Gejolak menjemput dan mengikat alunan surgawi.

Kupanjat dengan kekuatan air mata, mengucur, menghalau kekuatan jahat,

Buah pinang yang memerah akan kuluruhkan.

Dari tulang rusuk ini aku memompa darah

Tersungkur tubuh membenamkan arogan

Kaki amblas ditarik kekuatan bumi

Samudra sampai…sampailah aku padamu

Hingga hanyut mengantarku pada pucuk pinang

Yang berhadiah cahaya

Subhanallah, Allah Maha Kasih.

Gresik, 2008

Acak dewi

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.