BASUH OTAK DIBASUH

JIWA-JIWA DI TANAH-TANAH

JIWA-JIWA DI RAWA-RAWA

BANGKITLAH BANGKIT

DARI TANGIS YANG PALING SAKIT

LUMBUNG-LUMBUNG

DI KOSONG-KOSONG

KOSONG DI KOSONG

SEGALA RINDU DIBASUH JANJI

BILA BERTEMU

BASUH DIBASUH

SEGALA KERUH DIBASUH

DI BASUH OTAK DI BASUH-BASUH

BASUHLAH HARI

DI BASUH BERSIH

BERANGKAT DARI BAMBU YANG DIEKPLORASI MENURUT KEHENDAK HATI DAN PIKIRAN YANG DISELARASKAN DAN DI HARMONIKAN UNTUK MENJADI SEBUAH LANTUNAN BUNYI.  KADANG TERATUR, KADANG JUGA MELANGUT SEAKAN SEBAGAI BUNYI PERTANDA SEBUAH KEJADIAN.

SESEKALI MELANTUNKAN SYAIR MENJADIKAN SEBUAH PERTUNJUKAN SEAKAN MENJADI RITUAL ORANG-ORANG YANG BERJUANG MEMPERTAHANKAN HIDUP DIKEHIDUPAN YANG CARUT MARUT, TUMPANG TINDIH.

SIMBOL BAHASA TUBUH YANG KARAKTERISTIK MENCOBA DIANGKAT DARI SEBUAH PERJALANAN KEHIDUPAN ORANG-ORANG PEKERJA YANG DENGAN KERAS HANYA UNTUK KEHIDUPAN SESAAT ENTAH ESOK HARI ?

JARIR SURURI :

“Bambu itu simbol kekuatan sebagai penyangga atau sebagai pengurai sesuatu yang terpendam didalam longsoran bukit ketika bencana terjadi.

Bambu juga menyimpan berbagai karakter bunyi yang menarik untuk di ekplorasi menjadi musik yang ritmis dan sekaligus magis

Oleh karena itu kita bekerja keras mencoba untuk memasuki wilayah bunyi yang terpendam di dalam BAMBU”.

PEMAIN :

JARIR SURURI

AZIZ

WARAS

WANTO

AGUNG

Pamflet Tadarus Budaya ke-6

Gelung Zaman

Sebuah refleksi Kelompok CAGER Gresik

dalam bekesenian yang senantiasa terlibat ruang dan waktu

sebagai sumber hayat yang mengalir

dan menjelma menjadi karya :

Menyenangkan, menyedihkan, menakutkan

Atau bisa jadi menyadarkan. Bahwa zaman ini, segala

Macam rasa semakin perlu dihidupkan

Agar kita tidak terseret bencana paling menakutkan : yaitu

“MATI RASA”

Gelung zaman bagi Kelompok CAGER adalah sikap menghimpun

dan menata segala yang tumbuh diatas kepala kita

L.Machali

PENGISI ACARA :

Orasi Budaya Oleh : Bpk. Choiruz Zimam

Musikalisasi Puisi Oleh : Teater Extra (SMAM 1 Gresik, Pemenang Musikalisasi Puisi di PEKAN SENI PELAJAR Tingkat JAWA TIMUR)

Musikalisasi Puisi Oleh : Teater Biru (SMUN 1 KEBOMAS GRESIK)

Pembacaan Puisi Oleh : Wuryantini

Teaterikal Oleh : Ucok dan PSTG (PELAKU SENI TRADISI GRESIK)

Musik Oleh : Sri Wahyuni (BU UYUN)

Teater Oleh : Devisi Teater Kelompok CAGER

Musik Oleh : Musik LIMBAH CAGER

Hari : Minggu

Tanggal : 13 September 2009

Jam : 19.30 Wib

Tempat : Aula Dinas P&K Karangturi

KELUARGA BESAR

KELOMPOK CAGER

TURUT BERDUKA CITA YANG SEDALAM-DALAMNYA

ATAS MENINGGALNYA

SASTRAWAN, BUDAYAWAN, SENIMAN

rendra1

WS. RENDRA

SEMOGA AMAL IBADAH DAN KEBAIKANNYA DITERIMA DISISI TUHAN

Berawal dari beberapa musik ILUSTRASI TEATER yang kemudian di REKONSTRUKSI kembali oleh teman-teman untuk menjadi sebuah pertunjukan musik yang lumayan panjang dan tentunya mempunyai cerita tersendiri lewat bunyi-bunyian yang dihadirkan dari beberapa barang bekas.

Seperti kaleng susu, sarung, papan triplek, rantai, baut panjang, kaleng bekas PESTISIDA, galon, potongan pipa besi dan PER MOBIL truk yang dimodivikasi kemudian diselaraskan dengan Gitar, Harmonika, Terbang, Jidor, Jimbe menjadi sebuah musik yang bercerita tentang kegelisahan MANUSIA, ALAM BESERTA isinya.

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Proses Latihan

Pementasan Monolog Di Gedung E Lantai 3 Kampus UNISDA Lamongan, Sabtu 31 Januari 2009.

ARMAGEDDON (Danarto)

Alam sudah tak lagi ramah pada manusia. Ataukah manusia yang tak lagi ramah pada alam. Keduanya adalah hubungan sebab akibat. Namun saya pribadi memilih bahwa manusialah yang tak lagi ramah pada alam. Lebih dari seorang Danarto pada pemikiran yang paling dalam menyatakan dalam ARMAGEDDON ini, bahwa manusia adalah pencipta kiamat itu sendiri sebelum TUHAN merealisasikan.

Aktor : Benny L.S

Musik : Jalil, Irvan, Agung, Sakir

Lighting : Tohir

KOstum : Benny L.S

Dokumentasi : Rozak

Pimpinan Produksi : Sri Wahyuni (Bu Uyun)

Konsultan : Lennon Machali


Dataran tandus, dataran kering adalah secuplik kalimat yang diangkat dari naskah itu untuk penggambaran ketika dimana kondisi alam sudah tidak ada lagi keteduhan, keindahan tentang hijau daun pada tumbuhan bahkan pada rumput. Pementasan yang memakan waktu kurang lebih 1 jam itu mampu membawa kondisi penonton kesebuah peristiwa alam yang mengerikan.

Simbol-simbol yang di hadirkan baik dari olah tubuh dan olah vokal membuat kita berfikir luas tentang pemaknaan sebuah bencana yang tak lain akibat dari ulah manusia itu sendiri.

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

Monolog di Lamongan

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »