PENERIMA CAGER AWARD 2011

dari kiri : Bapak Jailani, Bu Asrofin, Bapak Mat Kauli

Dimata masyarakat Gresik siapa yang tidak kenal dengan Pak JAILANI, Beliau paling terkenal disiplin ketika bertugas dilapangan. Beliau tidak pandang bulu dalam menindak setiap pelanggar LALU LINTAS.

Lain lagi dengan Bu Asrofin, beliau mendedikasikan hidupnya sebagai tukang memandikan JENAZAH perempuan.

Tua bukan satu alasan bagi bapak Mat Kauli untuk surut dalam berkesenian. Beliau adalah salah satu dari sekian orang yang ada di Gresik yang masih eksis dengan MOCOPAT nya. Bahkan beliau memberikan waktu luang untuk siapa saja khususnya warga Gresik yang ingin belajar dan melestarikan kesian yang bisa dibilang KUNO.

”Mempertimbangkan Kembali Apa yang Terjadi”

DASAR PEMIKIRAN

Reformasi diproklamasikan sesaat setelah Soeharto lengser. Usianya tergolong masih puber belum dewasa, tetapi dari kandungannya telah melahirkan anak-anak perubahan hasil perkawinan berbagai budaya dunia, sehingga identitas anak kandung negeri ini sebagai bangsa berbudi santun, luhur, beradab, religius, saling menghormati dan menghargai semakin termarjinalisasi.

Derajat kemanusiaan melorot tajam. Konflik horizontal tidak lagi dipicu karena perbedaan antar pemeluk agama tetapi konflik sudah bergeser dengan sesama penganut agama. Tawuran tidak hanya terjadi pada masyarakat awam dan primitif tetapi masyarakat metropolitan sudah membangun tradisi itu sejak lama, bahkan masyarakat intelektual dan akademisi juga ikut memainkannya. Bentrok antara masyarakat sipil dan militer sudah bergeser dari persoalan politik kekuasaan ke persoalan sengketa hak kepemilikan atas tanah, dan tidak mau tertinggal wakil rakyat kita selain bentrok secara fisik, konflik politik mengakibatkan para legislator jatuh berguguran di depan hukum.

Libelarisasi dan kapitalisasi ekonomi membuat masyarakat jadi konsumeris serba fastfood.  Gaya hidup cepat saji merangsang semuanya tumbuh serpa cepat. Padi diobati dan diberi pupuk kimia agar cepat dipanen, sapi diberi multivitamin agar cepat gemuk, ayam dijejali makanan kimia agar dalam sebulan lebih sedikit sudah bisa dikonsumsi, anak-anak dirangsang dengan obat-obatan, vitamin dan mineral agar cepat bongsor bahkan pola pikirnya dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Buah-buahan seperti papaya, durian, jeruk, jambu, apel  dan lainnya dimanipulasi dengan rekaya genetika, sehingga pohon dapat berbuah sepanjang musim, besar dan dan enak rasanya. Dari sisi ekonomi kapitalis, makanan yang diproses melalui rekayasa kimiawi mendatangkan untung besar bagi produsen, karena biaya produksinya murah, sementara konsumen dapat membeli barang bagus juga berharga murah. Padahal perlu dicatat, timbulnya berbagai penyakit degeneratif yang mulai diderita orang berusia muda seperti kanker, gagal ginjal, diabetes, jantung dan lainnya banyak disebabkan seringnya mengkonsumsi makanan hasil manipulasi kimiawi itu.

Peradaban manipulasi itu begitu kuat pengaruhnya di Indonesia ini. Gayus Tambunan adalah manipulator unggulan Kantor Ditjen Pajak. Penyidik sekelas jenderal sampai tamtama dibuatnya bertekuk lutut, bahkan jaksa andalan Kejaksaan Agung berhasil diseret menjadi manipulator rencana tuntutan. Di kalangan politisi,  perolehan kekayaan hasil manipulasi proyek bukan lagi berita istimewa, begitu pula di dunia pendidikan yang sampai saat ini sulit memutus mata rantai gerakan manipulasi nilai ujian nasional. Masyarakat yang tidak ikut menjadi anggota gerombolan pembohong di dunia pendidikan itu dianggap pengkhianat dan harus dihukum dengan teror-teror  mental yang menyakitkan.

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar, apakah termasuk korban manipulasi data dan informasi sehingga dia harus menjalani sisa hidupnya di penjara? Tidak terhitung jumlah hakim yang berhasil ditangkapi KPK karena diajak klien untuk memanipulasi fakta persidangan, juga tidak terhitung jumlah menteri, gubernur, bupati/walikota/anggota DPR/DPRD dan birokrat serta kontraktor yang menjadi narapidana akibat perbuatannya memanipulasi anggaran.

Dalam bidang agama, dalil-dalil agama dimanipulasi untuk bisa mengebom pusat-pusat kemaksiatan, dan dalil-dalil agama juga dimanipulasi agar terjadi konflik horizontal sesama pemeluk agama. Tokoh agama, ulama, kiai dan ustadz secara gradual tidak akan menjadi pusat kekuatan politik dan sosial akibat kecanggihan rekayasa dan manipulasi opini yang busuk.

Trend manipulasi sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern yang membudayakan hidup serba cepat. Makan di KFC, Mc. D, minum coca cola, minum coffe di Starbuck bukan karena memang rasanya enak dan lezat serta minumannya sehat dan menyegarkan, tetapi karena arus modernitas berhasil memanipulasi keinginan menjadi kebutuhan dalam bungkus yang cantik dan indah.

Membungkus barang bersifat ‘merusak’ dengan kemasan canggih adalah upaya untuk memanipulasi makna sebenarnya menjadi tidak senyatanya, dan celakanya yang tidak senyatanya itu lebih dipercaya. Makanan berbahan pengawet dan mengandung penyedap MSG lebih dipercaya untuk dikonsumsi anak-anak sampai orang dewasa, padahal sulit dipercaya berbagai jenis makanan itu menyehatkan, tetapi kita tetap mengonsumsinya karena kita percaya itu adalah deposito penyakit masa depan kita.

Teknologi modern membuat manusia bagai kuda troya, kekuatan fisik dan nofisiknya dipacu sekeras-kerasnya agar dapat meraih kekayaan material lebih cepat, sementara kekayaan batinnya dari hari ke hari merosot pada derajat yang serendah-rendahnya tidak lagi menduduki mahluk yang fii ahsani taqwim tetapi terperosok dalam asfala safiliin. Dengan kecanggihan teknologi, seharusnya tidak menjadikan manusia despiritualis, sebab dengan bertadarus sambil membaca, memahami, menghayati serta berpikir bahwa semuanya itu adalah ayat-ayat  Tuhan yang akan membuka jalan seluas-luasnya kepada manusia untuk mengimani atas kebesaran Allah.

” NYANYIAN PENEMUAN ATAU KEHILANGAN “

MONOLOG

BEKAS RIAS DI PANGGUNG

* Profil Pemain

Suliswanto : “Mak Satona”

Lahir di Malang, 2 April 1954

Menggeluti Ludruk sejak duduk di bangku SMA, tahun 1971 dan mendirikan Ludruk Gelora Remaja di Malang. Begitu tamat SMA tahun 1973 bergabung dengan keompok Ludruk Mekarsari. Mendirikan Ludruk Gelora Surabaya ditahun 1978 dan mengisi acara Ludruk di Radio Gelora 10 November RKPD Surabaya. Pernah menyutradarai Ludruk RRI Surabaya selama satu dekade 1980-1988. Tahun 1989 mendirikan Ludruk Garuda, keliling (tobong) hingga tahun 2004. Meraih penghargaan Sutradara terbaik dalam Festival Budaya Jawa Timur 2004 yang digelar oleh dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Jawa Timur. Menyutradarai Ludruk Lintas Generasi binaan Cak Kadaruslan sepanjang tahun 2005-2006. Kini di tengah kesibukannya memanajari Ludruk Supali, dia juga sedang menggubah naskah referensi sari buku-buku sejarah menjadi naskah Ludruk. Salah satunya yang telah rampung adalah kisah Ken Arok.

Mastohir : “Jo Kasmo”

Lahr di Surabaya, 29 September 1946

mengawali kesenian di tahun 1960 dengan bergabung di organisasi Penggemar Seni Teater (pansiter). Pernah kuliah di Fakultas HUkum Universitas Airlangga Surabaya, namun tidak sampai lulus akibat peristiwa G30S/PKI. Sempat menekuni seni lukis di Akademi Seni Rupa Aksera Surabaya (Aksera) 1967-1969. Kemudian terlibat di Srimulat sejak 1966 hingga 2000. Mengikuti pentas berpindah-pindah dari Surabaya, Solo, Semarang dan Jakarta. Turut berperan mulai sebagai penata artistik, pemain, hingga sutradara. Terakhir ikut bermain dalam lakon “Pesta Pencuri” bersama Teater Bengkel Muda Surabaya (2007-2008).

Multato : “Maling”

Lahir di Surabaya, 11 Desember 1948

Nama aslinya adalah Mulyono. Dikenal dengan sapaan Multato karena dulunya sejak 1975 hingga awal tahun 2000-an menggeluti seni tato. Dia telah mengenal dunia teater sejak tahun 1973. Bergabung di Teater Krikil. Di tahun 1980 ikut mendirikan Teater Nuansa hingga tahun 1995. Sempat bergabung dengan Teater Sandradikta selama 1 tahun 1996_1984 sampai sekarang. Dia masih sering diajak tampil bersama kelompok-kelompok teater di Surabaya. Di sela-sela itu juga menyempatkan diri main sinetron yang diproduksi TVRI. Saat ini pekerjaan sehari-harinya adalah tukang cetak disebuah percetakan.

* Sinopsis

Mak Satona

Seorang perempuan tua bekas jadi primadona dipanggung ludruk. Diamana waktu sudah berubah Mak Satona yang sudah tua itu masih jadi bahan pergunjingan para laki-laki yang butuh perhatiannya. Ternyata kemenarikan Mak Satona bukan karena kecantikannya tapi baik budinya. Disitulah keunikan dia memberi sentuhan batin orang yang sedang membutuhkannya.

Jo Kasmo

Jo Kasmo adalah anak panggung yang sedang bergelut dengan kesepiannya diatas panggung Srimulat ketika semua penonton sudah tiada. Dalam mengisi hari tuanya yang sepi ini dia mencoba mengenang lelucon-lelucon konyol yang pernah diungkapkan temannya dipanggung. Dari sinilah dia mulai belajar lagi tentang hidup yang sebenarnya.

Maling

Seorang bapak yang berprofesi sebagai maling tiba-tiba adu mulut dengan anaknya. Pasalnya sang bapak memalingi dan menguras habis harta kekayaan seorang renternir, diamana renternir tersebut calon kuat anggota DPRD. Yang paling celaka anak sang bapak ini adalah tim sukses renternir yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD ini. Darisinilah silang sengketa membuka semua aib dunia permalingan yang sedang diperdebatkan bapak dan anak ini.

* Staf Produksi

Ketua : Zainuri

Sekretaris : Hanif Nashullah

Bendahara : Syaiful Arif

Supervisi : Saiful Hadjar, R. Giryadi, Henky Kusuma, Meimura.

Pemain : Mastohir, Multato, Suliswanto.

Musik : Syaiful Arif, Hanif Nashrullah, Marjangkung, Sukma Ayu, Farincha, Nancy.

Kru : Suyitno, Jon Pa’i.

NEGARA LEMBEK

Negara kita adalah negara lebek. Maksudnya, wawasan etikanya lembek. Hal ini dikarenakan, di negara kita landasan baik dan buruk sering kacau, tidak jelas, yang berbeda dengan negara-negara seperti Amerika yang mempunyai landasan etika yang jelas. Dulu pernah ada satu keguncangan karena para anggota parlemen Amerika mengadakan lawatan ke suatu tempat dengan menggunakan uang yang jumlahnya belasan ribu dollar. Itu saja sudah dipersoalkan. Tapi bagaimana di kita? Milliaran dolar tidak dipersoalkan. Padahal dari segi agama kita sebagai orang Muslim mestinya kuat secara etis. Karena Kitab Suci Al-Qur’an saja disebut al-furqan, artinya pembeda yang tegas antara yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah. Jadi, ini berarti kita kekurangan etika. Padahal, menurut hadist nabi, yang benar dan yang salah itu jelas berbeda, dan antara keduanya ada hal-hal yang syubhat. Dan syubhat baru diketahui setelah jelas mana yang halal dan mana pula yang haram. Kalau semuanya sybhat, itu jelas tidak betul. Tidak ada logikanya.

—ooOoo—

Gunnar Myrdal. Seorang ahli sosio-ekonomi Swedia, pemenang Hadiah Nobel, memasukkan negara kita, INDONESIA, ke dalam kelompok negeri-negeri berkembang, yang ia sebut sebagai kelompok “negara-negara lembek” (soft states). Sebutan itu kurang enak didengar, dan pernah menjadi bahan kontroversi. Tetapi tak ada salahnya menelaah kembali maksud penilaian Myrdal itu sebagai cermin bagi kita, dan meneliti kenyataan-kenyataan yang ada.

Yang dimaksud Myrdal sebagai “lembek” ialah tidak adanya diisplin sosial. DI sini kita membicarakan mengenai kelemahan dan kesewenangan yang bisa, dan malah telah disalah gunakan untuk keuntungan pribadi oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan ekonomi, sosial, politik. Kesempatan penyalahgunaan dalam ukuran besar itu terbuka untuk kelas atasan, tetapi orang dari anak tangga paling bawah pun mendapatkan pula kesempatannya untuk keuntungan-keuntungan kecil. Myrdal menyebut gejala ini sebagai “korupsi”, yang telah begitu mengakar dalam budaya bangsa kita.

JIka benar bahwa untuk setiap keberhasilan tentu ada ongkosnya, maka sebagai salah satu “ongkos” menjadi bangsa merdeka ialah menggantikan tenaga-tenaga sendiri dalam mengatur negeri, dan itu juga berarti pergantian tenaga ahli yang berpengalaman oleh yang kurang ahli dan kurang berpengalaman. Keadaan kurang ahli dan tiadanya pengalaman itu mempunyai akibat mundurnya produktifitas berjalan seiring denagn membengkaknya personalia, dan pada urutannya, diiringi dengan turunnya gaji bila diukur dari nilai riilnya. Digabung dengan kebiasaan menjalankan administrasi “menurut kebijaksanaan”. dan ditambah dengan kaum politisi yang setelah kemerdekaan berkedudukan penting karena memegang kekuasaan, keadaan ini membuka pintu bagi praktik-praktik korupsi. Myrdal secara khusus menyebut negeri kita INDONESIA, yangyang disebutnya bebas dari korupsi di zaman kolonial Belanda, menjadi negeri yang paling korup beberapa saat setelah kemerdekaan.

(TADARUS BUDAYA KELOMPOK CAGER GRESIK Ke-6, Minggu 13 September 2009)

Oleh : Bpk. Choiruz Zimam (Budayawan Gresik, Guru SMAM 1 Gresik)

Sumber : Ensiklopedi Noercholish Madjid, jilid 4, hal. 3104-3105

“DONGENG CINTA”

Aku selalu menyimpan bulir air mata

demi membayar cinta yang tak pernah lunas

demi sudut taman eden

Nun sepanjang tarikan nafas

Ditiap tarian, kutadah peluh menunggu buntat

demi sesaji kebaktian

tanpa piala

tanpa lencana

Inilah dongen air mata

kutulis dengan menggadai rindu dan perih

bersanding syahdu di pelaminan

Inilah dongen cinta

mencanda duka dan luka

dibalik persembunyian sempurna

——–

Siwoer Agts.09

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.