.h.a.l.o.s.a.y.a.n.g.

Halo sayang, gimana kabarmu pagi ini ? semalam aku mimpi tentangembun lagi, tapi ini lain. Ini kali, embunnya menguap bersamaan ketika tangan mungil merengut kelopak-kelopaknya dengan kemarahan. Aku sendiri tak tahu pasti, ia marah karena apa. Yang kulihat, air matanya deras tumpah kemana-mana, hitam bola matanya begitu sepah, dingin, beku. Itu wajahnya pun kusut musai. Hmmm… laripun tak ketentuan kemana arahnya.

Halo sayang, bagaimana kabarmu jam sembilan ini. Ini sudah tak lagi pagi lho sayang. Apa kau masih juga melayang-layang ? apa masih ada ruang dimimpimu buat diriku ? sedang menarikah aku dimimpimu ? telanjangkah aku ? atau….aku malah tesingkir jauh-jauh oleh wajah mantanmu, yang atas nama cinta begitu katamu selalu, menelantarkan cintamu yang berumur enam tahun ? huh, sialnya aku kalau begitu, kalau memang benar wajahnya masih juga menghantuimu. Ahh…

Hai sayang, menggekiatlah kamu, ayo, bukankah ini sudah jam sembilan. Sebagian manusia sudah pada kelelahan. Ya, mereka bernafas sudah teramat keras.

Ngos,ngos,ngos, begitu dengus yang kudengar, keras bukan ? kau tahu kenapa ? lantaran, jantungnya dipacu terlalu keras. Yah, mereka berpacu dengan lembaran-lembaran mimpi yang diterbangkan angin entah kemana. Tak berketentuan, montang-manting, ruwet, ribet. Wah kasihan kan ? maka dari itu, menggeliatlah kau sayang. Paling tidak geliatmu, seperti tarian si Eko dalam klip Laila Canggung si Iyeth. Ya, ya, aku suka sekali ada lagu itu. Klipnya apalagi.

Uh, sayang, ma’af, aku kebelet. Akumau berak dulu. Egh…egh..egh…egh…egh….ahhh….

Halo lagi sayang… eh, masih disini juga kau rupanya, tadi, waktu aku buang hajat, nggak ngintip kan ? tapi, bagaimana kabarmu barusan ini ? ya, ya, aku tahu,kau masih disekitarku. Tapi, sepertinya kau belum menggeliat juga. Wah, tidurmu pulas sekali sayang. Atau kau memang gemar tidur ya ? padahal, akhir-akhir ini, banyak sekalli orang susah tidur. Sampai-sampai, berobatnya harus lewat angin malam. Tuh, karaoke banyak juga yang buka, demi mengobati mereka-mereka. Atau acara tv yang terus-terusan menggoda mata untuk senantiasa menemaninya. Sementara sudut kamar atau mesjid sepi dari tahajud. Ah, masjid ? apa masihbuka pintunya di jam 12an ? kebanyakan sih sudah ditutup rapat-rapat. Paling juga hanya terasnya saja yang masih bisa dipakai. Tapi, itupun sebagaian besar masih juga jadi tempat tidur. Aih, kenapa juga, aku jadi membahas mesjid denganmu, bikin kau jengah saja, ma’af ya. Aku tak bermaksud.

Eh, sayang, tahu kau ? saat berak tadi, aku merasa disekitarku, diatas kepalaku tepatnya, aku seperti dikerubungi sesuatu. Begitu ringan rasanya, tapi begitu banyak juga. Tiba-tiba juga, mataku berair, sambil merasa dikerubungi sesuatu. Ah….. apa ? bukan ! ngengat ? juga bukan dehsayang. Rasanya seperti ada angin semilir, lalu sedikit terasa panas diujung kepala atas, seperti ada lubang besar diatasku yang juga seakan bercahaya… apa kunang-kunan ? bukan ? burung ? ah, kau ini, mana ada burung ? kau pikir aku sedang berak dipematang sawah apa ? aku kan beraknya disini-sini juga. Yah, tak jauh dari dirimu, juga tempatku tidur selam ini. Dimana lagi ? kan, tak ada ruang lagi disini.

Makanya, bangun donk sayang. Rasanya itu, ternyata bikin aku gemetar. Makanya bangun dong, lalu beraklah supaya kaupun merasakan seperti yang aku rasakan. Eh, eh, itu ibuku. Eh, kenapa tiba-tiba ia datang ya ? eh, ia masih juga membawa sekotak coklat yang sebelumnya sudah kadarluarsa. Dia mau bikin blak forest lagi mungkin, tapi pakai coklat cip. Tapi saying, matanya masih sama. Mata ibuku masih juga gagap saat menatapku. Selama itu, aku juga pernah mencari tahu, kenapa sampai mata ibuku gagap, tiap kali melihatku. Padahal ini aku, anaknya, buah dagingnya sendiri. Akhirnya, kau tahu sayang, setiap aku melihatnya gagap menatapku, setiap kali aku merasakan ia tak yakin akan diriku. Anaknya. Ujungnya, mungkin dicerita ini, saat aku telah begitu saja membantai kekasihnya, lantaran aku bosan dengan kelakuannya, ya, ia yang selalu memaksaku untuk hidup menurut caranya. Karena ia pikir, bahwa tangan, kaki, semua yang ada didiriku adalah miliknya. Mungkin karena ia berfikir, bahwa ia juga ikut menyumbang bikin aku. Huh… sebal kan ? Padahal aku kan tumbuh, makin besar. Maka suatu malam, saat ia mau bikin orang lagi, aku masuk kekamarnya. Tepat saat ia mengerang keras, aku tebaskan mata kapakku ke lahernya. Untung ibuku tak kena. Lalu ada cairan merah turut mengerang keluar. Huh…. Ya, begitu saja. Sudah.

Kau tahu sayang, ibuku, langsung berteriak-teriak, keluar kamar, tanpa pakai apa-apa lagi. Padahal dia bugil habis. Sementara tubuhku disenggolnya keras-keras, demi melihat kekasihnyategeletak meregang nyawa. Selanjutnya, beberapa lama kemudian, ia mencoba meyakinkanku, bahwa saat itu ia mau bikin kawan untukku, adikku, itu katanya. Adik, buat apa ? supaya dijadikan seperti aku lagi. Tidak lebih. Tidak ! lebih biaik aku menolaknya. Iya kan sayangku ? He, kau belum menggeliat juga. Ayo, menggeliatlah sayang. Apa kau tak merindukan aku sedikitpun ? aku masih disini lho. Menurutmu, apa kau tak khawatir kalau-kalau aku bosan denganmu, lantas meninggalkanmu, lalu mencari saying yang lain ? Hei, sayang…. Ayo bangun ! Menggeliatlah. Sekali saja. Aku ingin melihat geliatmu. Kau tahu kenapa ? karena, saat kau menggeliat, kau tampak begitu seksi. Lekuk-lekuk tubuhmu yang keras tapi liat begitu kusuka. Aku tak tahu kenapa. Padahal aku sendiri tak pernah memegangmu langsung. Ingin sih sebenarnya, tapi aku masih mencoba menahannya, mungkin akku takut melukaimu.

Rasanya sayang saja, kalau akhirnya kejadian aku memegang tubuhmu. Menyentuhmu, memelukmu, lalu tiba-tiba aku ketagihan dirimu dan tak mau melepasmu lagi, maka kaupun terengut olehkku. Nah, itu yang aku tak ingin.
Hush…hush…hush… heh, sayang, lekas bangun, paling tidak menggeliatlah, hush… hush… lihat, sayang, belatung itu sudah pada gemuk memakan dagingmu. Tak gelikah kau sayang. Heh, sayang, mereka begitu menikmatimu, lihat… hush… hush… kalian makan terlalu banyak daging sayangku.

Di 2×2 2003
SiWoer yang lagi ketemu orang gila.

 

 

 

Depan          Kumpulan Cerpen

Copyright © kelompok Cager Gresik