Kamar Hitam

Aku masih di sebuah rumah, dalam kamar yang daun jendelanya terbuka satu saja. Separoh ditutup dengan gordyn. Di mataku selarik warna jingga hinggap begitu lama. Ia menari bersama kedipan mataku yang memandang entah apa. Sesekali ia juga berjingkat ketika mataku memicing sebelah atau dua-duanya, agak panas, tapi tak ada air mata yang membilas mataku yang perih, panas.

Di pintu no 2 suara ibu di dapur sedang memasak. Seperti menggoreng sesuatu. Entah sejak kapan, aku masih mendengar gemericak minyak kena panas api. Sementara bapak keras-keras memanggilku dengan suara yang seperti bukan memanggilkan namaku. Dia memanggilku lewat loncatan-loncatan suara seperti suara orang mengaji di speaker. Dengan sengaja menekankan kata-kata tertentu yang aku tak pernah paham artinya bila tidak menyimak pelan-pelan. Tidak berguna, buang-buang uang, sia-sai waktu, entah. Apa maksudnya.

Suara minyak kepanasan dan suara orang mengaji berloncatan menari-nari seirama kedipan mataku bersama jingga duiluar sana. Entah pagi entah petang. Aku cuma merasakan sebuah perjalanan yang panjang. Kini aku tiba di sebuah terminal. Rumahku, begitu pulang, menyapa orang-orang tersayang, duduk sebentar, lalu mandi. Harusnya badanku semakin segar, namun suara penggorengan dan orang mengaji yang berebutan merubungku dekat-dekat. Tak tahan, aku keluar darinya.

Ke pintu bernomer 1/2 aku dapati tubuhku bungkuk lama. Aku hanya ingin menangis sepenuh hati. Tanpa diganggu. Oleh siapapun, oleh apapun. Menangis. Sekali saja, sampai tutas, sampai tak tahu lagi mengapa aku menangis. Sampai tak tahu berapa lama aku menangis. Karena menangis adalah kejujuranku. Seperti air mata yang dipendam di sepasang mata temanku. Ketika aku bercerita tentang menjadi hidup dan menjadi mati. Dia pun bilang “Enak dinikmati saja Mak.” Mak. Begitu ia selalu memanggilku, setelah itu matanya tertegun. Hidup, bekerja sekuatnya, bukan sekedar sebisanya, dinikmati setiap yang ada. Mak, sedihdan bahagianya adalah hal yang sewajarnya.

Tubuhku membungkuk lama, dan kepalaku menunduk juga. Seolah leherku terbuat dari baja karena kata mereka aku keras kepala. Tapi bukankah aku lahir dari ibu yang keras kepala dan bapak juga keras kepala. Karena itu aku mirip mereka. Tapi aku ingi menempa keras kepalaku dengan panas siang dan dingin pagi dan malam yang selalu menemaniku dan selalu menemukanku. Paling tidak bukan baja yang kuemban tapi hidup yang setiap guratannya aku torehkan dengan kesadaran salah dan benar. Lantas aku duduk sambil berayun-ayun memeluk lutut, sesekali menciuminya. Ketika aku menciumi lututku, selarik jingga yang tadi kubawa-bawa kutinggal. Saat bermain ayunan menikmati tulang punggung dan ekor berebut darah dan udara. Suara mereka berkerenyang di kepala dekat telinga. Meski terkadang samar.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Suara-suara terdengar makin keras. Bertimpuk suara orang mengaji yang ditekan-tekan dengan hentakan kaki. Dia terus memanggil-manggil namaku dengan menghujam hatiku. Aku berhenti mengayun. Tapi sakit. Sementara suara gemericak minyak juga terdengar makin kuat. Orang mengaji di penggorengan.

Tanganku makin erat memeluk lutut. Tiba-tiba saja aku takut kalau-kalau tubuhku diangkat dan digoreng juga. Tapi orang mengaji tidak berteriak kesakitan, malah penggorengan yang pecah dan minyak berleleran. Ya, minyak panas tumpah, meleler dilantai tak tentu arah. Sementara orang mengaji terus saja menekan-nekan suaranya, dia juga membawa-bawa nama ibu disuaranya, dia juga terus menyakitiku. Padahal aku hanya menangis saja, sebentar saja, suara-suara diamlah. Brakkk……

Bukan hysteria, bukan panic juga, hanya menangis saja. Apakah itu salah. Tapi ternyata airmata tak ada yang keluar. Mana dia ?

Jingga diluar, kini entah. Mungkin kini ia menggaris setipis sehelai rambut. Kuat. Dan aku menantangnya masuk dalam-dalam ke kepalaku. Paling tidak siapa tahu ia mampu mengalahkan suara-suara itu. Minyak yang meleler tak lagi berebut mencari tempat. Suara orang mengaji ditutup hentakan pintu. Maka aku yang terpaku, disini, dikamar berpintu nomer 1. Apa saja yang sudah terjadi. Karena kamar ini sudah dirubung hitam.

Dikamarku, daun jendela kubiarkan saja terbuka. Jingga sudah tak ada, ia berganti dengan putih tipis, setipis bayang-bayang. Seukuran mata memejam.

Tolong matikan lampu lainnya. Aku tak mau cahaya pura-pura. Biar aku cari sendiri cahaya dengan mataku. Bukankah itu yang selalu aku terima sejak dulu. Sejak kecil malah. Tapi mengapa begitu dewasa, semua kata-kata tiba-tiba menjadi serba salah. Ah, lebih baik kututup pintu saja. Lalu tubuhku harus kubiarkan bicara apa adanya. Kamar sudah pekat dirubung hitam. Jendela yang terbuka tak bisa berbuat apa-apa. Hanya ada aku dan hitam yang makin menyatu.

Sekarang aku ingin memecahkan teka-teki putih tadi. Meski aku tak tahu pasti, diakah cahaya sejati, atau pura-pura ciptaan tubuhku sendiri. Tapi aku ingin mempertahankan cahaya putih ini. Paling tidak, dari mataku yang memejam, aku merasakan putih pelan-pelan merayapi tubuhku. Mengajakku berdiri mencari air untuk berwudh.lu

Yan. K, ’06
( Medio Juli-Okto )

 

 

 

Depan          Kumpulan Cerpen

Copyright © kelompok Cager Gresik