.t.w.i.l.i.g.h.z.o.n.e.


Ada yang aku tak tahu bila aku harus mencari daya tariknya. Please, jangan paksa aku untuk mencarinya lalu mengtakannya padamu.

Aku hanya sempat meyakini, inilah yang aku cari selama ini. Padanya aku menemukan smart-nya, brave-nya, nekat, jujur, tapi juga curang, gila, pemberontakan, kecerdikan, spontan, erat saling menjalin, bulat, membentuk dunianya sendiri yang benar-benar autis, hanya dia yang tahu, seakan tak hendak lepas, dan entah yang lainnya, mungkin aku belum sempat menemukannya yang bisa ia lepaskan. Yah, begitulah. Misterius ? aku kira juga tidak. Unik, mungkin. Tapi apa iya dia demikian ? Entah.

Yang pasti, aku padanya, sempat bimbang dan yakin, sempat percaya dan tidak, sempat senang dan sedih sempat gembira dan marah, tapi entah kenapa, bila kau tanya tentang penyesalan, sampai saat ini aku belum bisa membulatkan penyesalanku. Jadi please, jangan kau tanya lagi mengapa aku padanya. Aku sendiri entah.

Terlalu melankolis mungkin. Atau ini memang gejala setiap sikapku, bahwa aku selalu ingin mengangsurkan seluruh hatiku padanya, lewat tanganku, pandanganku, ucapanku, atau mungkin kemesraanku juga, idih jadi malu akunya. Pasrah ? aku rasa bukan. Dia hanya membuatku senantiasa tak ingin hindar darinya. Kalau toh pun harus hindar, maka aku tak akan berlalu tanpa jejak hatiku tertinggal. Yah, aku, sekalian merasah tertinggal untuk menorehkan rasaku padanya entah disudut yang mananya.

Jangan kau tanya dia dimana saat ini. Kau pasti tak akan mengira, bila aku katakana dia sedang berlibur. Tidk, jangan kau sebut nama tempat-tempat indah nan menawan untuk menebak keberadaanya. Kau benar-benar jauh dari sempurna. Dia tidak disemua tempat itu. Mati ? kau pikir dia sudah mati ? tidak, dia masih hidup. Tapi entah, apakah dia masih tampak segar bugar untuk saat ini. Apa ? kau menyerah untuk menebaknya. Karena, seperti yang aku katakana tadi, kau tak akan pernah bisa mengira, dimana dia berada. Yah, sedang berlibur di sudut lain dunia ramai kita yang entah apa sebutannya tapi aku lebih suka menyebutnya sudut dunia belahan lain kepongahan manusia. Kau bingung ? dia sedang berada disudut kejujuran yang tanpa kita sadari. Masih bingung ? yah, terserah. Hanya, aku minta sorry, aku tak bisa memuaskanmu.

Tapi please, jangan kau paksa aku untuk mengatakan dimana tepatnya dia berada. Sebab, bila aku sudah mangartikulasikan tempatnya, kau akan terbinkai oleh makna sedemikian rupa dengan tempat itu generally. Jadi please, biar aku yang mendiskrisipkan tempat itu menurut caraku. Dan please, jangan kau tanya aku lagi, apakah aku cinta padanya ? aku sendiri masih entah. Entah kenapa aku begitu merasai dia. Bahkan aku tak sempat berfikir sebelumnya, apakah dia juga merasaiku. Sungguh-sungguh ? Entah. Atau kau pikir aku sudah buta ? mungkin.

Aku sempat merasa begitu lepas tapi terkendali. Emosional yang hati-hati. Dan aku enjoy dengan itu semua. Yah, aku juga pernah merasa demikian sebelum bertemu dengannya. Tapi ini lain. Ini begitu intens, begitu tandas, sekalligus begitu terasa walau sebenarnya – mungkin – invisible ukuran emosi. Begitu cepat, come as a flash to me. Tapi sudahlah, aku tak ingin bercerita lagi. Aku takut nanti melebih-lebihkan. So, please biarkan aku bediam saja ya ?

Ehm, apa mungkin aku terinspirasi olehnya ya ? entahlah. Ah, lebih baki aku mengatakan demikian, daripada ke-g,r,-an. Aku juga tak ingin tau, apakah ia merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Aku pikir tidak. Aku hanya merasa tepat ditengah-tengah irisan duniaku dan dunianya. Padahal dia bilang dia itu ibarat sebuah kubus. What, how, and who he is, are depends on the which you see him. Padahal aku bersikukuh, ya, aku toh berhak melihatnya dari sisiku.

Tapi ada satuhal yang aku takutkan darinya. Aku takut bila setiap kali menjumpainya aku akan menemukan sisi baiknya. Bagiku, lebih baik bila aku tak menemukannya. Kau tahu kenapa aku takut ? aku takut, bila aku terjebak dengan temuan-temuan itu, maka aku tak bisa melepasnya pergi sewaktu-waktu. Aku takut yang aku temui membelenggu kerelaanku ditinggalkannya. Yah, aku bahkan merasa lebih baik bila kau tak menemukan sisi baiknya. Biar aku rela melepasnya kapan saja, kemana saja, sebentar atau bahkan selamanya. Itu saja. Tapi please, jangan kausebut aku gila. Aku merasa masih waras-waras saja. Please, jangan juga kau bilang dia telah berhasil mendominasiku. No, aku masih merasa so me.

Yah, aku tahu kebiasaan dia mendominasi siapa saja yang dia kehendaki. Aku juga tahu bagaimana dia merancang plot yang dia pilih untuk karakter-karakter yang dia kehendaki. Kalua toh dia menemukan kartu as-ku, dan sekarang mungkin sedang memainkannya, it’s okay, no problem. Aku masih enjoy saja. Hitung-hitung, siapa tahu aku juga bisa bermain dengannya. Asyik kan ? menurutku, mungkin ini tarian ramai-sunyi. Yah, mungkin ini judul yang tepat untuk menarikan siapa dia. Ah, sudah ya ? tiba-tiba aku ingin segera menjumpainyadan membacakan ini untuknya. Sorry, kalau kau kutinggalkan begini rupa. Karena aku harus menjumpainya.

Per 9 juni 01
Pasca 2x kesudut kejujuran tanpa kesadaran
( RSJ Menur 6-7 juni 01 )

 

 

 

Depan          Kumpulan Cerpen

Copyright © kelompok Cager Gresik