Jum’at, 24 Maret 2006

Forum Transit (FT), sebuah komunitas seni yang sekaligus wadah pembedahan karya beberapa waktu lalu dinilai sebagai “pengadilan”. Sehingga, komunitas Teater Tobong (TB) yang belum siap untuk “diadili” atau dikritik secara tajam, membatalkan tampil. Namun sebagai gantinya dan komunitas yang siap dikritik, Teater Cager dari Gresik.

Pembedahan karya Cager, sekaligus memperbincangkan kelebihan dan kekurangannya itu akan dilakukan di Taman Budaya Jatim (TBJ) pada Selasa (28/3) pukul 14.00. Selain Cager, pada saat sama yang siap diadili adalah film dokumenter karya sutradara Juslifal M Yunus.

Sama seperti pelaksanaan sebelumnya, FT kali ini juga akan mendatangkan pengamat kesenian, budayawan maupun wartawan budaya untuk menyampaikan masukannya setelah karya ditampilkan. Mereka itu, Bawong Samiaji Nitiberi (praktisi film maupun teater) dan Antok Agusta dari TBJT.

Dalam FT nanti, Ceger yang selama cukup dikenal aktifitasnya, baik di kotanya sendiri maupun di Surabaya, berencana menampilkan karya berjudul Split / Belah dengan naskah dari Si Woer dengan durasi pentas sekitar 50 menit. “Menurut saya, FT adalah sebuah bentuk komunitas kajian yang bagus dan sekaligus diharapkan menjadi ajang pengembangan karya. Sehingga, komunitas yang tampil diharapkan tidak sia-sia. Kalau untuk dikritik, kami sudah merasa sangat siap,” kata Pimpinan Produksi Teater Cager, Sriwahyuni, Kamis (23/3).

Dalam FT nantinya, tambah Wahyuni, tema yang diangkat Cager merupakan sebuah gambaran dari kehidupan sehari-hari yang selalu membuat banyak orang ragu-ragu dalam bertindak. “Keragu-raguan itu, kami coba tampilkan dengan menceritakan kisah anak-anak manusia yang pikirannya bercabang. Mereka merasa bingung menentukan sikap. Adegan dalam pementasannya nanti juga akan bercabang-cabang,” tambah dia.

Lakon Split nanti akan dibawakan oleh lima aktor teater andalan Cager, seperti Waras, Woeryantini, Tohir, Ali dan Tomi. Mereka telah selesai berproses dan penggarapannya sudah mencapai hingga 75 persen. “Rencananya, setelah tampil dalam FT dan sekaligus dibahas tuntas, rencananya akan dikaji bersama sama lagi atau diendapkan lagi oleh Cagur. Setelah itu, kami berencana pementasan di Solo, Lamongan dan sejumlah kampus di Surabaya,” tuturnya.

Tidak tangung-tanggung, dalam pementasannya di FT, kelompok teater ini akan menyajikan juga musik khusus yang dibawakan oleh kelompok Limbah. Komunitas ini pernah mengikuti Festival Seni Surabaya (FSS 2004). Komunitas musik ini juga sekaligus sebagai pengiring Cager dalam pementasannya. Apalagi, komunitas musik ini juga masih dimiliki oleh Cager juga. Dalam pentasnya nanti, akan membawakan musik kontemporer yang melibatkan alat-alat seperti simbal yang digesek dan peralatan dari paku. “Jadi, dalam pentasnya Cager nanti, musik pengiringinya juga kontemporer,” kata Wahyuni.

Sementara TT yang gagal pentas di FT, seperti pernah diberitakan Surabaya Post, pada 30 Maret akan tetap pentas di Galeri Surabaya (GS). Usai pentas, mereka juga tetap membuka diskusi namun lingkupnya terbatas. Dody Yan Masfa, sutradaranya menyebut semacam laboratorium.(lil)

Sumber : Surabaya Post.

 

 

Depan          Kliping

Copyright © kelompok Cager Gresik