Minggu, 11 Februari 2007

Pemateri : M. Choiruz Zimam

** Selain sebagai guru Sosiologi di SMU Muhammadiyah 1 Gresik, beliau juga adalah seorang S2 Sospol UNAIR. Dalam perjalanan rentang tahun 1988 – 1991 beliau Aktifis Kelompok Diskusi Averous di Bungah. Tidak sampai di situ, pada tahun 1997 – sampai sekarang dia aktf di LPPM (Lembaga Pengkajian & Pengembangan Masyarakat) Bidang Pijakan Publik.


Yang umum terjadi di masyarakat saat ini adalah pola berpikir yang semakin mengarah ke Positivisme. Yang cenderung suka memperhatikan realitas sebagai hal yang tampak (bersifat kulit) dan yang berpikir (rasional). Maka ada pula kecenderungan dari perkembangan berpikir rasional, apalagi ditunjang dengan teknikalitas, sehingga menghasilkan paham baru yaitu rasioanalisme, yang merupakan cirri dari atheis.

Sementara modern sering diidentikkan dengan industrialisasi dan teknikalisasi. Padahal modern sendiri belum terpola secara utuh. Hal ini lebih dikarenakan sebagai hasil perjalanan sejarah nasional yang seringkali terputus. Baik akibat dari adaptasi penerapan system peraturan yang selalu “membaru” atau juga akibat terpotongnya proses implementasi system yang hampir seringkali tidak tuntas. Sebuah proses pemiskinan intelektual yang berjalan terus menerus dan menghasilkan terkikisnya kreativitas secara perlahan tapi pasti.

Di sisi lain adanya perlakuan mayoritas yang seringkali membawa dampak psikologis tertentu. Yaitu problematic social yang tak segera dapat dituntaskan dan tak segera dapat dianalisa secara baik dan terarah. Membawa masyakarat pada posisi seringnya kehilangan atau keterputusan informasi dan keotentikan masalah.

Belum lagi dengan masih melekat kuatnya hegemoni penjajah (Belanda) yang senantiasa mengangkat hegemoni pentingnya kehadiran tokoh. Hingga sampai saat ini terdapat ketergantungan yang tinggi di masyarakat terhadap pola kejiwaan atas kehadiran tokoh. Sebagaimana dengan hegemoni mayoritas. Bahwa di Gresik yang mayoritas masyarakatnya Islam cenderung berpola sebagai pengendali sampai pada kehidupan bermasyarakatnya. Hal ini sempat dianggap sebagai satu pola hegemoni mayoritas, sampai dengan hadirnya manipulasi perjalanan penerapan system di masyarakat.

Apabila mengimplementasikan masyarakat pada pola dan proses modern, maka diperlukan proses penyelesaian traumatic social, penyelesaian pertentangan antara tradisi dan modern, proses mengenali lingkungan dan proses mengenali diri, serta proses membuka diri. Dari proses inilah diharapkan terjadi penghargaan dan apresiasi terhadap keutuhan diri dan diharapkan menghadirkan kejati-dirian.

Kesimpulan untuk memahami modernitas itu sendiri adalah perlu adanya kesadaran diri akan system yang diterapkan di masyarakat, hal ini berkaitan erat dengan sikap kritis. Perlu adanya penyadaran tradisi sebagai bagian dari kebudayaan dan sebagai bagian dari langkah menuju dinamika perkembangan kebudayaan. Penyadaran akan lingkungan dan akhirnya adalah penyadaran akan pemahaman diri yang utuh.

 

Depan          Diskusi

Copyright © kelompok Cager Gresik