Minggu, 11 Maret 2007

Pemateri : Budi Palopo

** Dalam dunia kesenian kita pasti akan mengenal seniman yang satu ini, namun dalam kesehariannya ternyata beliau banyak beraktifitas di dunia media. Pada tahun 1998 – 1999 selain sebagai Wartawan & Redaktur KARYA DHARMA beliau juga sebagai Redaktur Budaya PEWARTA SIAR. Kemudian pada tahun 1999 – 2005 beliau menjabat Redaktur GUGAT. Dan ditahun 2005 – sekarang beliau menjabat Redaktur SURABAYA PAGI sekaligus Redaktur Surabaya Sore.com (on-line)


Fungsi seorang (seniman) pada pemberdayaan seni ada pada bagaimana memotivasi diri dalam menggali potensi seni dan saling melakukan koreksi atas kehadiran karya seni. Bahwa Seniman dan masyarakat tetaplah masyarakat juga, yang senantiasa selalu mengalami proses hidup bersama, sehingga setiap temuan dari akibat-akibat regulasi atau pergeseran nilai akhirnya menjadi catatan khusus bagi masyarakat (seniman) yang bersangkutan.

Sebagai contoh sosialisasi dan keaktivan seorang seniman bermasyarakat dengan bidang yang digeluti, pemateri mendiskripsikan pada kegiatan yang pernah digagas bersama masyarakat desa Betiring dan di desa Domas. Keterlibatannya dalam acara Bersih Desa menemukan beberapa pokok pikiran khusus. Yaitu bagaimana mengejawantahkan tradisi budaya masyarakat setempat yang notabene di setiap Bersih desa selalu menggelar budaya tandakan/tayuban (yang masih dipandang dengan falsafah kramat), mengelilingkan gong kecil ke kampung-kampung, ketika secara langsung bergesekan dengan agenda strategi budaya Pemerintahan Kabupaten (Pemkab). Yaitu kontradiktif dengan budaya-budaya Islami/agamis sehingga ada pengkondisian yang membuat beberapa rangkaian acara di dalam Bersih Desa harus digeser atau bahkan ditiadakan.

Maka timbulnya pergeseran di masyarakat secara langsung akan membawanya pada materi keberlangsungan eksistensi sang seniman itu sendiri. Sampai juga akhirnya pada proses kelahiran karya yang memiliki nafas “membumi”. Bila wacana tentang pergeseran nilai yang tercatat dan teranalisa dengan baik bisa diimplementasikan dalam rangkaian perjalanan pembentukan opini public untuk mencari titik temu atas orientasi kemasyarakatan, alangkah lebih baiknya lagi.

Temuan tentang pergeseran nilai budaya yang ditemui pemateri adalah lebih banyak pada betapa ramainya orientasi kepentingan ikut “campur tangan” terlalu dalam proses berbudaya dan berkehidupan masyarakat. Apalagi bila dikaitkan dengan slogan yang notabene dikeluarkan (Pemkab – Gresik Berhias Iman), meskipun dalam tataran etimologisnya kata Beriman merupakan singkatan dari besih, industri, maritim dan niaga, namun pada kenyataannya dalam perjalanan implementasi slogan tersebut terjadi distorsi makna yang cukup signifikan. Yaitu sampai pada upaya menggeser budaya tradisi masyarakat. Untungnya hal ini tidak terlalu kuat dialami oleh masyarakat yang jauh letak geografisnya dari pusat Pemkab, bila dibandingkan dengan msayarakat yang secara geografis berdekatan dengan pusat, atau masih mudah terjangkau oleh regulasi.

Diskusi ini akhirnya menemukan fakta bahwa selama regulasi masih beracuan pada orientasi kepentingan semata, maka sangat mungkin terjadi budaya yang termanipulasi (digeser) demi memenuhi wacana implementasi. Apalagi kalau bukan sebagai buah pertanggung-jawaban public atas kehadiran slogan atau rangkaian kerja sebuah kelompok pemerintahan.

 

Depan          Diskusi

Copyright © kelompok Cager Gresik