Minggu, 24 Juni 2007

Pemateri : Syaiful Hadjar

saipul1.jpg Seorang Penyair, Pelukis, Pemain Teater, Perupa yang lahir di kampung Kaliasin, 30 Agustus 1959. Beliau juga Penggagas KSRB (Kelompok Seni Rupa Bermain) 1994 – sekarang, Peserta FSS tahun 1996 dan tahun 2000, di tahun 1998 beliau menjadi Peserta Art Ridge Festival di Perth Australia. Menggelar Seni Rupa Teror “Antara Sepatu Beliau dan Mahasiswa”, Menggelar Seni Rupa Instalasi “Republik Indonesia Baru”, Menggelar Seni Rupa Teror “Interogasi Gelap” pada tahun 1989 di Surabaya. Tahun 1999 Menggelar Seni Rupa Teror “Tanah Rencong” di Gresik. Pameran Lukisan Hitam-Putih “Kabinet Mega Omplong” pada tahun 2001. Peserta Pra Binnale di Surabaya tahun 2005. Peserta Binnale Yogya tahun 2005. Peserta Binnale Surabaya tahun 2005. Menggelar Performance Art Danau Siringan di Sidoarjo 21 Juni 2007. Perjalanan karyanya sepanjang 2004 – 2005 diulas di Archipel 2006 (Majalah Interdisipliner Perancis edisi tahun 2006). Dan telah melakukan sekitar 25 kali pameran dan pementasan yang dianggapnya sebagai gerakan kebudayaan.


Seni Rupa di Indonesia sedang dihadapkan pada pergulatan dan tarikan kepentingan kapitalisme. Hal ini didasarkan pada makin maraknya efek event yang membangun domain dalam mainstream masyarakat seni Indonesia. Bahwa event besar selalu bergengsi, sehingga siapapun (para pelaku seni khususnya perupa) tergiur untuk serta didalamnya. Pertimbangan tentang visi dan misi event yang semakin lama semakin bersebrangan dengan misi dan visi kehadiran kesenian (fine-art) di masyarakat. Bahwa kesenian harusnya melahirkan bentuk dari keusilan-keusilan dan kegelisahan-kegelisahan atas persoalan-persoalan hidup. Bukan kesenian yang dibentuk oleh kepentingan (penyelenggara event).

Giuran dari penyelewengan visi dan misi demi komoditas peruntungan akhirnya menjebak masyarakat perupa pada pola organisasi pemasaran karya seni yang ujung-ujungnya ada pada elera pemodal event. Dari alasan inilah muncul event yan berdagang. Antara art dealer, kurator & seniman. Padahal pada nyatanya di Indonesia seniman selalu muncul sebagai pihak yang merugi.

Perupa sering kali hanya mendapat porsi yang kecil dari hasil karyanya, dengan alasan bahwa butuh banyak untuk melakukan event pameran untuk biaya honorarium kurator, penjaga galeri, dan katalog luxury. Apalagi munculnya katalog yang lux sering dipakai alasan sebagai penghargaan atas inspirasi & ide karya sang kreator (bukankah sebuah alasan yang konyol sebenarnya ?). Bila disimpulkan terjadi peristiwa pergerakan atas pengarsipan dokumen oleh Kapitalis yang sama dengan transfer modal.

Pengadaan event tersebut termasuk pada usaha permainan menghindari pajak kekayaan. Hal inilah yang menjadikan Indonesia sampai saat ini belum memiliki museum seni rupa seperti halnya di Cina. Mengapa Cina sebagai contoh, dikarenakan Cina menghargai seni rupa yang memiliki nilai jual tinggi. Negara Cina benar-benar membiayai kegiatan seni secara serius, maka bisa menjadikan karya yang dilahirkan sebagai bagian dari investasi negara, kekayaan yang dilindungi.

Mainstream masyarakat pun dipola untuk menangkap perihal munculnya event sebagai kegiatan melarut. Bukan sebagai pengendali peristiwa. Artinya, masyarakat kreator semakin banyak yang termakan untuk mengisi fungsi berkeseniannya ebagai fungsi pengejar event semata. Tidak murni sebagai masyarakat yang gelisah atas persoalan hidup.

Sementara dalam seni rupa sendiri semestinya yang terpenting adalah mencampurkan media apa saja yang bisa digunakan untuk diolah sebagai instalasi untuk menyampaikan sesuatu. Fungsi penting lainnya dari seni rupa adalah bagaimana menangkap setiap elemen yang terjadi di masyarakat dan mengolahnya menjadi bentuk yang bisa bermakna banyak. Yaitu membuka kembali kasus, mempertanyakan kasus, atau bahkan menawarkan solusi atas kasus.

Lebih baik lagi bila kelahiran karya sebagai proses kegelisahan dengan intensitas yang tinggi maupun yang memiliki keberpengaruhan terhadap sense of researching (rasa ingin meneliti). Sehingga karya tersebut menjadi karya interdisipliner yang bisa menjadi follow up bagi siapa saja. Event hayalah sebagai efek samping, bukan target utama. Sehingga bisa diharapkan bahwa sebuah karya sesuau yang mampu membuka memori, wawasan penikmat yang sangat kompleks. Inilah kemudian yang menjadikan karya tersebut bisa dipertanggung-jawabkan. Bukan sekedar diperdagangkan.

Maka bila dipertanyakan konsep pebentukan KSRB (Kelompok Seni Rupa Bermain) dimana pemateri berkiprah adalah benar-benar konsep bermain-main. Menjadi seakan-akan. Yang akhirnya berkembang membentuk diri sebagai Laboratorium Kebudayaan, Pendidikan Alternatif, dan Gerakan Kebudayaan. sebagai Laborat Kebudayaan, melakukan fungsi sebagi dengan pendidikan kewarga-negaraan, bermain-main sebagai pemilik sistem kekuasaan, sehingga bisa mejalankan diri yang berfungsi sebagai atasan para eksekutif.

Sebagai Pendidikan Alternatif, KSRB memberi pemahaman terhadap anak-anak tentang masalah sosial dengan tidak membebani pikiran anak. Dengan menggambar pasar misalnya, anak diminta untuk menggambarkan apa saja yang ada di pasar sesuai dengan pengamatan mereka. Inilah porses pemahaman terhadap anak tentang bermasyarakat, dan berlingkungan.

Sebagai fungsi gerakan Kebudayaan, adalahpada bagaimana menuju pada pola menciptakan masyarakat yang dialogis terhadap persoalan. Maka pada intinya, setiap yang tergabung di KSRB mempunyai hak untuk mengeksplorasi persoalan yang diangkat sebagai bentuk laboratorium intelektual.

Sebagai kesimpulan atas Diskusi TEBU – 5 ini adalah : Perlunya kreator cermat terhadap latar belakang perkembangan sistem dunia sebagai acuan untuk menentukan posisi dan kedudukan yang setara, di tengah-tengah. Perlunya intensitas yang tinggi dalam prosees kelahiran karya terhadap persoalan yang diangkat seimbang dengan proses pencarian yang kritis sebagai bentuk pembuktian eksisstensi dan pertanggung-jawaban. Sehingga muncul gerakan kebudayaan sebagai efek proses kerja yang harus dijalankan.

 

Depan          Diskusi

Copyright © kelompok Cager Gresik