Rabu, 07 November 2007

Limbah Cager, Grup Musik dengan Instrumen Limbah Pabrik
Ciptakan Lagu tentang Kecelakaan Kerja
Grup musik Limbah Cager kini mewarnai khazanah kesenian Kota Santri Gresik. Komunitas pemusik unik itu muncul dengan instrumen musik dari limbah pabrik. Lirik-lirik lagunya pun sarat kritik.
CHUSNUL CAHYADI, Gresik

Kepadatan industri tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi penduduk Kabupaten Gresik. Bising mesin pabrik dan kepulan asap dari cerobong tidak hanya menjadi polutan. Bagi personel grup Limbah Cager, denyut industri -beserta dampak negatif dan positifnya- bisa menjadi inspirasi dalam seni musik.

Dari tangan dingin Lenon Makhali, salah seorang seniman Kota Pudak, lahirlah karya-karya yang menyentuh sendi-sendi kehidupan kaum buruh dan masyarakat umum. Sesuai dengan namanya, kata Lenon, alat musik yang digunakan Limbah Cager berasal dari barang-barang bekas produksi pabrik alias limbah.

Antara lain, tungku pabrik, knalpot dan rantai motor bekas, tangki elpiji, lempengan besi, serta botol minuman. Limbah-limbah tersebut dikombinasikan dengan alat musik lain, seperti gitar dan biola. Paduan getaran dan dentuman alat-alat itu menghasilkan suara yang merdu.

Kata Lenon, racikan limbah dan instrumen musik Limbah Cager tidak lepas dari sentuhan seni tujuh pemusik grup tersebut. Mereka adalah Jalil, Andi Kundel, Irul Embek, Waras Mael, Azil Sombro, Wanto, dan Sri Wahyuni alias Uyun. “Seluruh personel bisa memainkan macam-macam alat musik. Jadi, tidak ada spesialisasi,” jelas Uyun, salah seorang motor Limbah Cager.

Uyun mencontohkan peran biola. Di tengah suara alat musik dari limbah yang bergemuruh dan berkarakter, kehadiran suara biola mampu memunculkan kemerduan. Itu bisa disimak dari salah satu lagu ciptaan Limbah Cager yang berjudul Kuli Mati.

Lirik lagu itu berbunyi ada yang menjerit, seperti tergencet roda karatan, seorang kuli mati di siang hari. Irisan bait lagu tersebut menggambarkan derita pekerja pabrik yang tergencet roda industri. Mereka hidup serba pas-pasan di tengah melonjaknya harga kebutuhan.

Ada lagi lagu lain yang menceritakan tentang ledakan pabrik di PT Petrowidada Gresik tiga tahun silam. Saat mengungkap tragedi yang menewaskan lima orang dan melukai banyak pekerja itu dalam salah satu pementasan di Alun-Alun Gresik belum lama ini, Limbah Cager mengemasnya dalam lagu Kali Kobong.

Lirik lagu tersebut mendeskripsikan bagaimana Kali Romo, Kecamatan Manyar, berubah menjadi sungai api memanjang. Arus sungai bukan lagi air, melainkan aliran api yang membara. Tanaman dan sejumlah rumah penduduk di sekitarnya pun terbakar.

“Kami menemukan salah satu bekas tungku yang terbakar. Tungku itu juga kami jadikan alat musik,” tambah Uyun. Menurut dia, bunyi-bunyian dan syair lagu disusun sebagai lambang kegelisahan warga Gresik akan tragedi dalam dunia industri tersebut.

Keunikan grup musik Limbah Cager ternyata mampu mengangkat mereka dalam berbagai even. Tidak hanya di kelas lokal Gresik. Kiprah mereka boleh dikata sudah menasional. Pada 2006, Limbah Cager ikut menyemarakkan Jambore Seni Nusantara di Balai Pemuda Surabaya. Mereka juga tampil di Festival Seni Surabaya. (*)

Sumber : Jawa Pos.

 

 

Depan          Kliping

Copyright © kelompok Cager Gresik