Rabu, 19 Juli 2006

Musik Limbah di Balai Pemuda

Musik tidak hanya dihasilkan dari alat-alat musik konvensional. Botol bekas kemasan air mineral dan barang-barang bekas lain bisa menghasilkan musik indah. Grup Cager dari Gresik dan Aliansi Seni Surabaya mengolah suara pelbagai barang menjadi musik di halaman Balai Pemuda Surabaya, Selasa (18/7) malam.

Selain mengeksplorasi barang bekas, Aliansi Seni yang dimotori musisi Solichin Jabbar juga mengolah suara gesekan balon dalam Gelembung-gelembung Paranoid. Suara gesekan balon dengan kulit menjadi unsur utama.

Dari gesekan balon dihasilkan suara yang mirip suara seruling tradisional yang kerap dipakai dalam pertunjukan reog. Balon-balon itu juga menghasilkan suara mirip kendang. Suara-suara lazim yang dihasilkan oleh balon diolah Solichin menjadi lebih berirama.

Lewat suara-suara yang terdengar berisik itu, kelompok tersebut mengejek orang-orang yang asal berbicara. Isi pembicaraan mereka tidak bermanfaat dan hanya menimbulkan kebisingan.

Di Lonceng Kematian Kreatifitas, Solichin mengolah suara berbagai jenis lonceng. Komposisi itu menyiratkan kebekuan kreativitas yang disimbolkan dengan setiap musisi memainkan lonceng dengan cara yang hampir mirip. Setiap karya yang muncul pertama kali akan ditiru oleh yang lain.

Eksplorasi barang bekas banyak dihadirkan di Ritual Botol. Para musisi itu mengolah suara botol bekas kemasan minuman yang dipukul- pukulkan ke batako.

Kelompok Cager juga mengolah suara botol bekas bersama baut panjang. Suara dari barang bekas itu disandingkan dengan suara gitar, harmonika, dan rebana. Jika Aliansi Seni menyajikan komposisi instrumental, Cager memilih komposisi dengan vokal dan musik.

Komposisi-komposisi mereka menghadirkan nuansa religiusitas masyarakat pesisir lewat Mesjid Laut, kepedihan dan duka buruh tenuh lewat Wilayah Gapura. Lewat Duka Kematian, mereka menyoroti cara pikir manusia yang selalu menganggap bencana sebagai azab dan ujian dari Tuhan.

Tidak pernah manusia berpikir bahwa bencana lebih kerap dihasilkan dari perbuatan manusia sendiri.

Jarir Sururi dari Cager menuturkan, komposisi-komposisi mereka sebenarnya disiapkan untuk disajikan di ruang tertutup. Mereka harus menyesuaikan beberapa bagian karena tampil di luar ruang. “Kami tidak menghadirkan bagian yang membutuhkan konsentrasi. Pasalnya, penonton tidak mungkin berkonsentrasi pada musik kami saja karena ada suara-suara kendaraan di sekitar panggung,” tuturnya.

Beberapa bagian dari komposisi-komposisi itu memang terdengar kurang sempurna karena harus bersaing dengan suara kendaraan yang lewat di sekitar Balai Pemuda. Namun, hal itu tidak mengurangi minat penonton menikmati sajian dari para musisi itu. Penonton yang tidak terlalu banyak juga bisa berinteraksi secara hangat dengan para penyaji. (KRIS RAZIANTO MADA)

Sumber : Kompas.

 

 

Depan          Kliping

Copyright © kelompok Cager Gresik