Rabu, 29 Maret 2006

Forum Transit (FT) yang menyajikan dua meteri, pemutaran film dokumentar Kampung Maut (KM) karya Juslifar M Yunus dan Teater Cager (TC) dari Gresik dengan lakon Split, mendapat apresiasi yang berbeda. Film KM yang diputar di Taman Budaya Jatim (TBJ), Selasa (28/3), lebih banyak mendapat tanggapan. Sementara TG, direspon dingin bahkan ceritanya dinilai membingungkan.

Film KM, mengangkat kisah masyarakat pinggiran yang hidup berdampingan dengan rel kereta api (KA), kawasan Dupak Magersari atau lakang kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Flm dibuka dengan penampilan seorang anak laki-laki berlari di epanjang rel. Kemudian dilanjutkan gambaran anak-anak sedang salat di sebuah mushala. Sepatu dan sandal tersusun hingga mendekati rel. Ketika salat selesai, mereka langsung berhamburan menuju rel KA yang memang berada di tengah perkampungan anak-anak tersebut tinggal. Adegan lainnya yang membuat “miris”, ketika pagi datang. Sepanjang rel menjadi pasar tradisional. Begitu KA lewat, orang di pasar menyingkirkan dan pedagang mengamankan jualannya dari gilasan kereta. Film berdurasi 15 menit ini juga menceritakan seorang anak laki-laki yang cacat karena kakinya tergilas kereta saat kecil.

Seniman teater yang juga pekerja film, Bawong Samiaji Nitiberi yang didapuk sebagai pengamat, mengatakan, 15 menit pemutaran KM, alur cerita yang ditawarkan kurang lengkap. Dia melihat film KM tidak banyak yang bisa dikritisi. “Dalam pengambilan gambar, saya tidak melihat adanya angle yang cantik. Alur cerita tidak tersusun secara baik, seperti siang hari, terus ada sore hari dan berganti lagi pada siang. Selain itu, gradasinya juga kurang. Durasi tidak masalah. Mau sepuluh menit atau setengah jam, selama tidak ada target, tidak masalah,” komentar Bawong.

Antok Agusta yang juga sebagai pengamat mengatakan, film dokumentasi dibagi dalam dua wilayah, dokumentasi murni dan film dokumentasi drama. “Dokumentasi murni tidak boleh ada satu adeganpun yang direkayasa atau dibuat-buat. Kamera harus mewakili mata penonton. Sedangkan dokumentasi drama, adegan bisa direkayasa atau ditambahkan,” ujar Antok.

Sementara itu, seniman teater Maimura sebagai penikmat mengatakan, cukup akrab dengan situasi kampung seperti itu. Namun ketika difilmkan, dia menyadari kalau situasi yang dialami orang di perkampungan itu adalah sebuah kengerian. “Film seperti ini seharusnya dicarikan forum yang lebih baik lagi, seperti diputarkan di hadapan para wakil rakyat,” kata dia. Kemudian pengamat sosial Basuki Babussalam menambahkan, film tersebut memiliki potensi besar bahkan bisa menjadi sebuah propaganda politik yang bagus. “Setelah melihat, saya merasakan kalau film ini bisa menjadi sebuah senjata yang sangat bagus. Masukan saya, alangkah lebih baik lagi jika polemik di diperkampungan itu semakin dikentalkan dengan memperlihatkan sebuah keranjang dagangan yang tertabrak kereta,” kata Basuki.

Sedangkan penampilan TC dengan karya Split, yang dimainkan empat aktor, masing-masing bercerita tentang fenomena psikologi sosial yang cenderung sulit berkosentrasi akibat sistem yang datang bertubi-tubi. Tampil dengan properti jaring terbelah di tengah panggung, meja-meja beralaskan kain hitam, mengisahkan seorang perempuan yang merindukan datangnya seorang pemuda untuk menjadi kekasihnya, yang diibaratkannya sebagai sebuah samudra. Sedangkan dirinya sendiri diibaratkan sebagai sebuah pantai “Seorang pemuda datang padaku sebagai samudra, akulah pantainya. Begitulah ia pernah berkata, maka terpananya diwakilkan lewat mata camar yang tak pernah lelah mengarung. Akulah ceruk pantai yang indah temuannya, tidak semua pernah melihatnya, tampak jauh dibibir samudra yang cekung terkurung,” kata wanita yang diperankan oleh Si Woer.

Seusai tampil, TC tidak banyak mendapatkan kritikan termasuk yang tajam. Karta TC malah dianggap sebagai sebuah teater yang membingungkan dan diskusipun terkesan lesu. “Teater ini sangat absurd. Kita mencoba untuk menampilkan ketidakmampuan seseorang untuk mengkomunikasikan sesuatu,” ujar Sutradaranya, L Machali. (lil)

Sumber : Surabaya Post.

 

 

Depan          Kliping

Copyright © kelompok Cager Gresik