Rabu, 29 Maret 2006

SURABAYA-Dalam menjalani hidup, orang selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Dan salah satu indikator kesuksesan hidup adalah sejauh mana orang tersebut menjatuhkan pilihan dengan pikiran jernih. Itulah salah satu pesan yang diusung Teater Cager, Gresik, dalam pentas Split/Belah di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), kemarin.

Bersama Yuslifar M. Yunus, sineas Surabaya, Teater Cager mengisi acara Transit Forum yang sudah digelar keempat kalinya. Pada even itu, Yuslifar menampilkan film dokumenter bertajuk Kampong Maut. Ini bercerita tentang kehidupan sebuah kampung di dekat rel kereta api.

Pada pentas kemarin, Teater Cager bermain selama 40 menit. Empat pelakon membawakan berbagai kisah dilema yang dialami oleh tokoh Wanita. Dalam kisah itu, Wanita kerap dihadapkan pada berbagai pilihan yang berat. Salah satunya adalah mencari sosok pria selain tokoh Lelaki. Nah, di masa penuh kebimbangan itulah masuk tokoh Si Hitam dan Si Putih di dalam pikiran Wanita. Mereka berusaha menawarkan berbagai macam pilihan yang saling bertolak belakang. Seperti judul pementasan, jiwa Wanita pun kerap terbelah.

Drama arahan L. Machali ini memang cukup absurd. Boleh dibilang, itu adalah drama berat. Dialog-dialognya memancing permenungan. Tak heran, penonton pun cukup lambat merespon. “Kami memang sedang dalam proses perbaikan untuk drama ini. Jadi, mungkin penonton masih belum dapat merespons dengan baik,” tutur L. Machali.(ara)

Sumber : Jawa Pos.

 

 

Depan          Kliping

Copyright © kelompok Cager Gresik