Minggu, 30 Desember 2007

Pemateri : Henri Nurcahyo

lakone-ok.jpgLahir di Lamongan 22 Januari 1959, pernah sekolah formal di FKH (Fakultas Kedokteran Hewan) UGM Jogjakarta, terjun berkesenian sejak tahun 1977, aktif di LSM kebudayaan dan lingkungan sejak tahun 1979, menulis di banyak media massa sejak tahun 1979 dan pernah menjadi wartawan/redaktur di Harian Memorandum, Surabaya Post, Jakarta-Jakarta, Tabloid Agrobis, Tabloid Bromo, dan Tabloid Mania serta Koran Metro, Tabloid Trend Hobi dan majalah Kembang. Terakhir menjadi pemimpin redaksi media on-line Yayasan AirPutih Jakarta yang berurusan dengan bencana, dan mendirikan Majalah GREEN Hobby. Pernah menjadi juara lomba karya tulis jurnalistik sebanyak 9 (sembilan) kali dalam berbagai bidang. Menulis banyak artikel kesenian di berbagai kesempatan (koran, majalah dan katalog pameran serta makalah sarasehan), dan aktivitas terakhirnya dalam lembaga Dewan Kesenian Sidoarjo dan Lembaga Ekologi Budaya (Elbud) serta Yayasan Titah Sari Bening (YTSB) Mojokerto. Buku yang pernah terbit antara lain: Memberdayakan Masyarakat Pedesaan, Ah Cuma Sketsa, Seni Lukis Surabaya, Keramik Sebagai Media Ekspresi Seni, Ambang Cakrawala (Monografi Seni Lukis Amang Rahman) – bersama Mamannoor, Koempoel The Maestro. Tahun 2001, mendapat Penghargaan Seni Budaya dari Gubernur Jawa Timur (sebagai penggerak kesenian bidang penulisan).


Refleksi Peristiwa Kesenian di Jawa Timur Tahun 2007

PERISTIWA kesenian apakah yang telah terjadi sepanjang tahun 2007 di Jawa Timur? Beberapa peristiwa yang teringat adalah; Surabaya International Performing Art (SIPA), Pameran Lukisan Biennale Jatim di Taman Budaya Jatim, pentas teater monolog “Sarimin” Butet Kertaradjasa, pentas tari teater dari Sulsel, Festival Kesenian Rakyat bulanan di Restoran Kahyangan, Festival Cak Durasim (FCD), Festival Seni Surabaya (FSS), Festival Seni Kawasan Selatan, Pameran Lukisan Jatim Bang Wetan, Festival Budaya Adhikara di Malang, dan sejumlah peristiwa kesenian lainnya.

Untuk memudahkan, klasifikasi berbagai peristiwa kesenian tersebut dapat dikelompokkan menurut pihak penyelenggaranya:

  • Pemerintah (Taman Budaya): FCD, FSKS, Biennale,
  • Pemerintah (Subdin Kebudayaan P dan K): Festival Adhikara, Pedalangan, dll
  • Dinas Pariwisata Jatim: Majapahit Trade Festival, Pemilihan Duta Seni Tari Jatim
  • Pemerintah Kabupaten/Kota: Festival Reyog Ponorogo, Festival Barongan di Lumajang, Jaranan di Trenggalek, Musik Lesung di Probolinggo, Festival Seni Budaya Majapahit di Mojokerto, Festival Remo dan Ludruk di Jombang dan Surabaya, Festival Malang Tempo Doeloe dan Jaran Kepang di Malang, dll
  • Komunitas Kesenian: FSS, SIPA, Bangwetan, Festival Sastra di Blitar
  • Swasta murni, Event Organizer: Pentas Sarimin Butet Kertaredjasa, FKR di Restoran Kahyangan.
  • Institusi Kesenian Swasta: Pentas Tari Teater Sulsel
  • Kepanitiaan insidental: Peristiwa kesenian lainnya
  • Kelompok-kelompok kesenian tradisi (ludruk), sanggar kesenian (tari, teater, balet)

Model penggolongan seperti itu untuk mendapatkan gambaran sejauh mana dukungan dana yang diperolehnya. Mengapa dana? Sebab inilah faktor penting yang nampaknya menjadi persoalan utama berbagai peristiwa kesenian selama ini. (Enam katagori di atas dapat diuraikan satu persatu).

Pemerintah sebagai penyelenggara, jelas tak kesulitan mendapatkan dana yang sudah ada di anggaran, tinggal menghabiskan. Meskipun, catatan penting bagi Pemkab, motivasinya menyelenggarakan festival kesenian perlu diapresiasi dengan baik. (Sidoarjo yang mengklaim sebagai Kota Festival saja tidak pernah mengadakan festival kesenian sama sekali). Komunitas kesenian mencari dana harus berjuang kesana kemari, meski ujung-ujungnya juga masih minta atau bekerjasama dengan pemerintah sebagai penyelenggara. Swasta murni menjadikan kesenian sebagai bisnis yang (kalau bisa) menguntungkan.

Satu informasi penting, mulai tahun depan pemerintah memberikan peluang besar bagi kalangan swasta sebagai lembaga penyelenggara kegiatan kesenian. Ada semacam aturan, bahwa pemerintah hanya berposisi sebagai fasilitator, sedangkan pelaksanaan acaranya diserahkan sepenuhnya pada seniman atau swasta. Ini adalah sebuah tantangan bagi profesionalitas seniman sebagai penyelenggara. Atau, apakah seniman lebih suka berpuas diri menjadi pihak yang diundang saja?

Kedua, yang perlu dicermati adalah: Untuk siapa aktivitas itu diadakan?

  • Tontonan masyarakat umum yang terseleksi menurut kemampuan beli tiket
  • Masyarakat umum tanpa batasan
  • Kalangan seniman sendiri, komunitas terbatas
  • Komunitas tertentu sebagai sasaran yang sudah ditentukan
  • Kalangan pelajar sebagai pantas-pantasan
  • Ditonton pemain sendiri dan teman-temannya
  • Terserah, ada yang nonton apa tidak

Ingat Teguh Karya? Dia pernah menciptakan Komunitas Penonton untuk teaternya sendiri, sehingga setiap kali pentas tak pernah repot mencarinya. Hal yang sama kemudian diteruskan secara profesional oleh Teater Koma, yang sudah mampu menciptakan fanatisme penonton. Publikasi dilancarkan sejak amat dini, dengan cara-cara yang kreatif dan langsung masuk dalam ruang privacy.

Sekadar ilustrasi: Satu contoh kerja kreatif yang dilakukan Ratna Riantiarno di Jakarta perlu dijadikan acuan. Pentas-pentas kesenian dari daerah (juga luar negeri), diperluas agendanya dengan cara membuat pentas kecil, diskusi, workshop di sekolah dan kampus. Sehingga grup kesenian yang jauh-jauh datang dari Papua misalnya, tidak sekadar datang ke Jakarta hanya untuk pentas 15 menit. Pola kerja seperti ini sekarang sudah lazim di Jakarta, seperti yang dilakukan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) lewat Festival Pantun Nusantara atau Festival Seni Tradisi Lisan.

Faktor penyelenggara dan dana, juga menentukan dimana (tempat) acara diselenggarakan. Pelukis, selama ini tercatat sebagai pihak paling kreatif melakukan ekspansinya menggelar pameran lukisan. Mereka bisa menggandeng lembaga siapa saja (pemerintah, kepolisian, tentara, pengelola rumahsakit, perhotelan, organisasi wanita, dll). Sehingga jangan heran ada pameran lukisan di lobby rumahsakit, aula markas kepolisian, bahkan di stasiun kereta api. Para pelukis pula yang dengan kreatif mampu menangkap peluang untuk menciptakan peristiwa (pameran lukisan) pada event yang bisa jadi sama sekali tak ada hubungannya dengan kesenian. Mereka menjadi pihak yang mengajukan inisiatif, bukan datang karena ditanggap (seperti halnya pentas tari atau seni pertunjukan lain sebagai penghibur atau pengisi acara).

Cobalah lakukan evaluasi, selama ini pentas teater dilakukan dimana? Pentas tari apakah selalu di panggung? Gelar musik apakah musti dengan peralatan sound system yang hingar bingar? Dan sastra, apakah masih asik dengan dunia sepi di lembar-lembar kertas? Sastra sebagai seni pertunjukan, pernah mengemuka menjadi wacana, pernah digelar beberapa kali, namun namaknya belum ada dampak positif yang kemudian menyertainya.

Berikutnya, apa manfaat (yang ingin dicapai) dari penyelenggaraan acara kesenian:

  • Sekadar rutinitas belaka
  • Pembinaan calon-calon seniman
  • Apresiasi bagi pelajar
  • Hiburan untuk masyarakat umum
  • Sarana bisnis yang mengedepankan profit
  • Sekadar bukti eksistensi seniman
  • Atraksi wisata
  • Menguatkan ketahanan budaya (seperti apa?), membendung budaya asing yang merusak?
  • Yang penting ramai, banyak ditonton orang
  • Publikasi, promosi, menciptakan berita
  • Meraih Rekor MURI
  • Meningkatkan religiositas
  • Sekadar iseng, daripada gak ada kerjaan?

Tanpa ada kejelasan manfaat sebagai sasaran yang ditetapkan sejak awal, maka penyelenggaraan acara kesenian bakal lebih banyak mudaratnya. Kejelasan manfaat ini juga sangat menentukan strategi bagaimana penyelenggaraan event kesenian itu dilakukan.

Yang tidak kalah pentingnya adalah, apakah kegiatan kesenian yang banyak dilakukan selama ini juga merambah wilayah intelektual? Berapa kali diadakan diskusi, seminar, sarasehan atau semacamnya? Pentas hanya pentas? Pameran hanya pameran? Atau, diskusi memang dengan sengaja diadakan untuk menjadi wahana refleksi seperti malam ini?

Marilah kita merenung, melakukan refleksi, kontemplasi, sehingga kita mampu menangkap makna dari berbagai bacaan peristiwa kesenian sepanjang tahun 2007 ini. Selamat Tahun Baru 2008.

 

Sidoarjo, 30 Desember 2007

 

Depan          Diskusi

Copyright © kelompok Cager Gresik