Sutradara Terater Sekolah
Di dalam Proses Produksi Pertunjukan

Problem Sutradara Teater Sekolah :

Hampir di seluruh sekolah yang memiliki kegiatan berteater, memiliki problema waktu yang harus dihadapi sutradara di dalam mewujudkan karya pertunjukan garapannya. Baik waktu untuk berlatih atau waktu Dead-Line hari pertunjukan. Apalagi Sutradara teater sekolah adalah guru yang sibuk harus menjalankan tugas mengajar mata pelajaran lain, selain materi kesenian. Oleh karena itu, guru sebagai sutradara teater sekolah dituntut kemampuan di dalam memanage waktu agar tugas mengajar dan menjadi sutradara sebagai tanggung jawabnya masih mampu terus berkarya. Jika tidak, maka Eksistensi Teater Sekolah adalah tetaer musiman. Sayangnya, management teater sekolah belum ada buku panduan yang dapat diterapkan di seluruh sekolah. Oleh karena itu tulisan ini, mencoba menawarkan konsep kerja sutradara dari pengalaman pribadi penulis selama menjadi Sutradara Teater Sekolah. Tak kalah pentingnya, problem pendanaan sekolah yang dialokasikan untuk teater sangat terbatas, juga rekrutmen siswa sebagai pendukung kegiatan teater hanya bersifat ekstra atau sekedar ikut kegiatan saja. Untungnya kegiatan teater sekolah sungguh menyenangkan jika ditangani secara kreatif oleh sutradara yang memahami persoalan kondisi lingkungannya, terutama untuk mendewasakan siswa yang mengiuti teater sekolah. Aplagi ketika sedang melakukan kegiatan produksi.

Kiat Sutradara Memilih Naskah :

Hal yang terpenting untuk menentukan hasil karya, sutradara dituntut kecermatan memilih naskah yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki oleh teater sekolah, dimana sutradara akan bekerja sebagai Directorsnya. Sutradara setidaknya harus mempertimbangkan aspek kesulitan dan keberhasilannya. Memilih naskah haruslah mempertimbangkan biaya produksi yang akan dikeluarkan, kecocokan pemain-pemainnya serta misi sekolah sebagai lembaga pendidikan, agar tak menimbulkan masalah dibelakang harinya. memilih naskah selayaknya mempertimbangkan bahasa dan kekuatan adegan serta dramatiknya. Naskah sendiri akan lebih mudah menggarapnya dan tidak lupa menghadirkan tokoh yang menarik atau unik yang beragam karakternya serta klimaks-klimaks kecilnya. Boleh jadi dikembangkan atau direvisi pada saat di latihan.

Sutradara Menentukan Style Production (Gaya Pertunjukan) :

Ketika naskah dipilih atau ditentukan kerja sutradara sudah menentukan pula gaya pertunjukan yang bakal digarap untuk masyarakat/sasaran penontonnya. Misalnya untuk masyarakat kampus atau pelajar yang tingkat apreseasinya tinggi, Drama absurd mungkin mengena. namun ketika di masyarakat awam komedi mungkin cock untuk mereka. Ada beberapa pilihan gaya pertunjukan yang umum dipakai :

– Gaya Tragedi
_ Gaya Farce
_ Gaya Tragedi – Komedi (Campuran)
– Gaya Absurd
– Gaya Komedi
– Gaya Opera
– Gaya Experimental

Tapi perlu di ingat, kemampuan aktor dan aktrisnya seperti apa ? kelenturan tubuhnya, kekuatan vokalnya, daya imaginasinya, kekuatan nalar dan staminanya. Kalau tidak, maka sutradara mesti terlebih dulu melatih dasar akting sebagai modal aktor dan aktrisnya.

Sutradara Menyusun jadwal dan Melaksanakannya :

Sebelum jadwal dibagikan, sutradara sebaiknya mengumpulkan dulu personilnya yang akan dilibatkan dalam proses produksi atau latihan. Termasuk pula pihak sekolah yang terkait penyandang dana, kesiswaan dan guru-guru yang diminta menjadi asisten ahli atau pendamping kerja sutradara. Dalam pertemuan ini sutradara membeberkan rencana kerja dan alasan serta tujuan penggarapan pertunjukannya. Dan menghimpun kesepakatan dan usulan demi kelancaran mencapai target penggarapannya. Bila perlu disusun pula job dan pos kerja masing-masing personilnya. Jadilah team work atau organisasi produksi kurang lebih seperti ini :

Selanjutnya sutradara menyususn dan membagi tahapan latihan yang terukur dan terencana umumnya 18 kali pertemuan x 2 atau 3 jam, tergantung tingkat kesulitan naskah dan kemampuan personil melaksanakan tugasnya. Berikut ini sekedar gambaran jadwal latihannya.

Selama proses sutradara selalu hadir dan jika berhalangan, tugas bisa diberikan kepada Asisten Sutradara. Untuk mencapai hasil yang lebih baik, disarankan sutradara juga menggunakan asisten ahli dalam hal musik, koreografer, pelukis. Dan ketika hari pertunjukan berlangsung, tugas sutradara dialihkan kepada manager panggung. Sutradara tinggal duduk manis sambil mencatat hasil garapannya. Jika kurang bagus kelak diperbaiki jika menggarap naskah itu lagi.

Sutradara Membuat Evaluasi :

Selama proses produksi pasti ada kekhilafan personil, atau ketidak puasan baik menyangkut cara kerja atau sikap sutradara yang dianggap otoriter juga mungkin yang lainnya. Maka kesempata Evaluasi diharapkan menuntaskan ganjalan-ganjalan walaupun terkadang terjadi pertengkaran, saling menyalahkan. Namun tetap dijaga sampai pada akhirnya semua harus saling mema’afkan.

Demikian pengalaman penulis didalam melaksanakan tugas penyutradaraan di sekolah atau di kelompok luar sekolah. Bila masih ada kekurangan dalam tulisan ini. Sesungguhnya penulis sendiri masih belajar dan terus mencari metode penyutradaraan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Gresik 7 – 8 Juni 2008

L. Machally

*Makalah Pelatihan Seni Teater Guru SD/Mi dan SMP/MTs Se Kabupaten Gresik.