BIDADARI

Aku seorang ibu. Aku bekerja tiga perempat bulan. Bukan bulan yang biasa kita temui malam hari. Tapi Bulan yang mengajari kita berhitung,1,2,3 sampai 31.

 

Pagi dimulai berkejaran dengan matahari, melawan  dingin dan kantuk aku mengusung berbagai benda diruangan yang  terlempar dari keranjang mainan. Piring bergesekan meminta perhatian karena   risih semalam menanggung kotoran. Aku mengambil corong dan mulai memperdengarkan suaraku ketelinga tiga dara  yang masih terlelap. Tiga dara yang selalu membuat aku senewen karena tak pernah mampu menembus ruang mimpi mereka. aku bersuara kali ini lebih mirip ribuan tawon  yang menyerang musuhnya, berdengung dan menyengat.

 

Perlahan tiga dara mulai menunjukan reaksi. Yang paling peka adalah si kancil Assyah  meliuk-liukan tubuh mungilnya, tapi ketika kakinya terbentur benda  didekatnya maka benda itu diraih dan dipeluknya  kembali berlayar melanjutkan petualangan. Aku mendengus karena tak berhasil menariknya keluar.

Lamat lamat aku dengar si montok Nala menggumam dan melebarkan matanya, mulailah dia menggosok-gosokan kakinya dan mencari lipatan paha yang biasanya membuatnya tertidur lagi tapi kali ini aku lebih sigap, kudekatkan aroma susu coklat tepat di hidungnya, tak butuh waktu lama aroma itu menyentuh kesadaran dan membangkitkan memorinya yang selalu ketagihan dengan susu coklat. buru-buru dia bangun dan mencari gelas yang ada ditanganku. Tanpa babibu langsung ditenggaknya tandas.

 

Maka dialah yang pertama menjadi pasienku, aku menggiringnya memasuki ruangan yang penuh  jutaan butiran embun yang terkumpul dalam bak semen.Tubuhnya  montok bergerak mengikuti ayunan tanganku mengusapkan busa sabun. Diam-diam aku bangga padanya .dia adalah lambang keberhasilanku mengurus gizi yang menjadi symbol kemakmuran.,ditambah lagi wajahnya mewarisi keindahan boneka India,wajah bulat,mata besar dan hidung mancung, usai pembersihan, tanpa disuruh dia bergegas memakai pakaiannya sendiri yang telah aku siapkan  tadi malam.

 

Kini giliran si lincah rintul, dengan tendangan kaki mengedor triplek penyekat kamar dia terbangun,.setengah terpejam satu persatu dilucuti gaun malamnya, setengah telanjang dia berlari menyongsong pancuran air yang memang sengaja aku pasang untuk mengisi bak, terdengar lirik lagu  pop  mengalun dari bibirnya. Tak lupa teriakan histeris konser bergema lewat pantulan dinding kamar mandi.Hanya lengkingan mautku yang mampu menghentikannya.Berjinjit dia keluar diiringi tetesan air dari sekujur tubuhnya, diraihnya handuk dan dibalutkannya ketubuhnya.

 

Aku menengok matahari sampai dimana, dari celah jendela dia menyembul menyeringai mengingatkanku bahwa sebentar lagi aku akan kalah karena dia sudah semakin tinggi.

 

.Aku telah ditunggu  perusahaan digdaya. Perusahaan yang memiliki gerbang   terkatup, Orang berlari, Sirine melolong. Ada arca batu melotot. kutipiskan tubuh agar dapat masuk . Berada dilorong  berkamar-kamar. Setiap kamar memiliki aura berbeda. berisi kumpulan terpilih : Bapak penguasa, mama macan, dan pakne bunglon. penghuninya suka beradu kekuatan, berlompatan membunuh karakter. Kepala ruanganku  Tante menor, usia 43 tahun, Tubuh molek . Kerlingan mata meluluhkan, sempurna kecuali bibirnya,  kanan –kiri mirip  ikan lajur.  Big Bos selalu terpesona oleh harum bau mulutnya  padahal sebagai anak buahnya yang setiap hari bergaul dengannya kami tak kuat menahan bau busuk menyengat setiapkali Tante menor berkata-kata, pasti ada yang salah sampai akhirnya kami sepakat memeriksakan indra penciuman kami pada dokter specialis THT tapi semuanya dinyatakan normal.

Tante menor menjadi simbol keperkasaan wanita ,  selalu siap dalam segala cuaca untuk perusahaan ini, memakai kedok  manager produksi ia sanggup melindas apa yang ada di depannya . Apa yang dilakukanya selalu berorientasi pada kantongnya, keringat  anak buahnya diperas untuk sebuah penghargaan yang takan sampai ketangan anak buahnya tapi selalu mendarat mulus di seperangkat perhiasan, rumah bahkan  rangkap jabatan dikalungkan padanya sebagai simbol prestasi. sedangkan anak buah hanya dianggap makhluk gaib yang tidak pernah tampak kehadiranya apalagi kemampuan kerjanya. Nol. Kalau toh ada dianggap wajar sebagai konpensasi dari gaji yang mereka terima.

kami menemukan bukti bahwa apa yang seharusnya menjadi hak kami tidak pernah tersampaikan. kami di bentangkan dengan gamblang bahwa perjalanan kerja kami tidak fair.

Kali ini tender besar. Kami sudah membayangkan akan mendapatkan beberapa lembar uang yang akan kami gunakan  untuk menyenangkan keluarga yang jarang kami lakukan. Kami berubah menjadi setan setan yang bekerja bagaikan kilatan cahaya,.keringat menetes tak kami hiraukan, kami anggap sebagai air menyejukan yang memandikan kami, semua rampung. kami menunggu konpensasi turun, lama ….. kami menunggu dengan sabar,  kabar datang dan mengagetkan bahwa sebenarnya nama-nama kami tidak terdaftar sebagai pekerja proyek ini.Lunglai sudah.

kami berkumpul dan berencana untuk berdemo langsung ke Big Bos,segalanya telah dipersiapkan., tapi sebelum kami bergerak, turun undangan  meeting dengan catatan yang tidak hadir berarti mengundurkan diri. rapat yang dicanangkan kepada kami adalah masalah perampingan perusahan, barangsiapa yang terlibat demo apapun juga posisinya tak akan pernah aman.

Tante menor  membawa serentetan catatan lubang lubang yang ada pada kami sebagai senjata untuk merantai kami. Semua terdiam memendam perasaan, tiba-tiba teman kami adinda mengeliat, jatuh tersungkur, tubuhnya mengejang,  ada apa adinda ? adinda duduk terus menggumam,  terpejam, merangkak mendekati kami,  melompat dan menari-nari seperti  penari balet, tepat didepan tante Menor  dengan lembut  meraba gaun tante menor merambat dan  ingin melucuti seluruh gaunnya, Tante Menor berteriak ketakutan namun tak ada yang berani mendekat, sampai  Big bos datang bersama sekuriti menyeret adinda, sebelum mereka menghujaninya dengan pukulan kami membawa adinda keluar ruangan. Kami berkumpul  dan berdoa bersama menenangkan adinda sampai matanya kembali terbuka.

Didorong matahari senja aku bergegas kembali ke peraduan bertemu tiga dara. Kilatan cahaya matanya menyambutku , oase bibirnya bagaikan madu menempel dipipiku, aku cium aroma tubuh ke tiga daraku harum  menenangkan . Si kancil assyah  duduk dipangkuanku memainkan bebek mungilnya bergumam kearahku meminta diterbangkan berkeliling ruangan, setelah itu kami berempat berangkat menikmati guyuran air dingin sampai ubun-ubun kami mengeluarkan panas, menguapkan semua keluh. Aku kembali berada di surga dengan dikelilingi tiga bidadari.

   

Acak dewi

Gresik, 2008