Aku telah sampai di sebuah gundukan menyerupai bukit di satu tanah lapang. Sangat lapang. Bukan Kurusetra, Tiananment atau juga Lapangan Banteng. Sepanjang mata memandang, hanya tampak hamparan seperti sampah aneka rupa. Ada batang kayu penyanggah rumah, semacam sampah jejak tsunami seperti yang kusaksikan 2 tahun lalu. Ada batang-batang pohon bekas ditebang di hutan-hutan yang kini terbakar. Ada juga batang-batang tubuh manusia. Ada yang kelihatannya masih baru, ada juga yang tampak sudah membusuk. Mataku berkedip-kedip tak percaya. Apakah ini semua ? Dimanakah aku sebenarnya ? Perlahan aku coba berdiri, tapi tubuhku kelu lunglai. Aku belum ingat apa saja yang terjadi padaku. Mataku yang baru menangkap cahaya kembali letih melihat pemandangan yang menghampar di depanku.

Aku melihat ke langit. Tampak kelabu kemerahan. Yang tampak hanya segerombolan gagak yang terbang mengintai di ketinggian. Sepertinya sedang rapat siapa mau memilih yang mana. Semakin tegak aku berdiri, semakin tampak sampah di depan mata itu bukanlah sekedar sampah. Ada batang pisang baru dan lama, ada batang tubuh manusia, ada batang cerobong asap. Ada yang keropos, ada juga yang seperti baru saja tumbang. Apa yang sudah terjadi ? Tampaknya aku sendiri disini. Dimana ini ? Pelan aku melangkah, sambil membagi tenaga dan perasaan. Telah terjadi gempakah ? Rumah siapa saja yang telah runtuh, ah, tak ada rumah, apakah penyebabnya, potongan-potongan tubuh-tubuh itu, kenalkah aku ? Pertanyaan-pertanyaan menghimpunkan tenaga untukku turun.

Langit memerah makin kelam, seperti hendak hujan, tapi seolah langit bicara, sudah tak mau mengandung air, atau juga panas. Sedang aku tak menemukan jejak matahari. Apakah siang ataukah sore. Sementara gagak-gagak di atas, masih asyik menari-nari. Di ujung sana ada juga gerombolan gagak yang telah lahap mencabik-cabik daging entah siapa. Kakiku menuruni lembah tempat aku tersadar. Tsunamikah lagikah? Mataku mencari laut, pantai, gunung. Kenapa tak ada jejak rumah rusak ? Apakah aku satu-satunya yang selamat ? di televisi, dulu, aku lihat bangkai kapal dan bangkai barang-barang besar lainnya tersangkut kemana-mana. Ini hanya tanah yang sangat lapang, ini hanya…… tak ada gunung atau laut.

Kak kak kak, suara gagak tiba-tiba menyadarkanku untuk bergerak cepat menghindar ketika seekor dari mereka hinggap di pundakku. Tenang ! Aku tak akan menyakitimu. Suara, ada suara, siapa ? Aku tidak sendiri. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di kepalaku. Hush… hush… hush… Hei ! Hei ! Ada suara lagi. Ya, aku tidak sendiri. Keyakinan itu semakin kuat. Hush ! Hush ! Hush ! Ah gagak ini. Aku masih hidup ! Tanganku terus mengibas mengusir gagak satu yang tak tahu malu. Calon korban ! Calon korban ! Calon korban ! Ada yang berteriak-teriak. Sementara beberapa gagak mulai ramai mencoba hinggap ke aku. Tanganku refleks menghalau mereka, para gagak yang makin menggangguku. Hush.. hush… hush… Kaaaakkkk……. Tiba-tiba seluruh gagak yang mengerumuniku pergi menjauh.

Di depanku, kini, seekor gagak bertubuh paling besar menghadang. Menatapku lurus dan tajam. Matanya sebesar biji salak hanya sesekali berkedip. Dia memandangiku dengan pandangan yang aku miris mengartikannya. Pandangannya mengisyaratkan akulah the last suffernya. The most deliciousnya. Kakiku surut. Mata tajamnya membuatku terpaku. Satu per satu gagak lainnya hinggap dibelakangnya, seperti menunggu. Jantungku mulai berdegup kencang menunggu apa yang akan terjadi.

Gerombolan gagak makin banyak, benar-benar menunggu. Mungkin yang didepanku adalah raja gagak. Badannya yang paling besar, dengan bulu yang paling legam masih menatapku tajam. Sementara mataku masih siaga mencuri-curi sekitar, mencari sepotong demi sepotong gerakan yang mungkin kutemukan. Tubuhku bergetar hebat demi tak menemukan satu gerakan lain selain gerakan tubuh gerombolan gagak. Entah berapa lama sudah kami saling menunggu, sampai ketika sayap raja gagak mengepak seperti sedang mengurai gerakan atau mungkin dimaksudkan sebagai pertanda akan menyerbu, ke arahku. Aku bersiaga.

“Sepertinya enak.”

“Tidak.”

“Biasa saja. Hanya segar.”

“Ya, ya, masih hidup.”

“Bilang sama bos. Kita siap berkorban.”

“Ya, ya. Last suffer.”

“Bilang. Bilang.”

“Ah, bos pasti tidak suka. Lihat, tubuhnya masih tertutup. Daging segarnya sama sekali tak nampak.”

“Kita cabik saja, biar daging segarnya kelihatan oleh bos kita.”

“Ya, ya, kita keluarkan darahnya.”

“Ya, ya, kau badannya, aku kepalanya. Aku muak dengan kerudung hitamnya, menyamai bulu kita.”

“Nanti bos marah.” Suara yang lain menyurutkan dua ekor gagak yang akan terbang. “Lihat, bos masih mempelajarinya.”

“Sudah ! Bilang serang sama bos.”

“Ya, ya, kita siap.”

“Kita siap.”

“Ayo bilang. Bilang sama bos.” Aku perhatikan seekor gagak perlahan tapi pasti

melangkah mendekati raja gagak didepanku. Belum sempat ia mendekat benar, raja gagak mulai mengepakkan sayapnya kembali. Aku semakin bersiaga.

“Diam semuanya.” Suaranya membahana. Suara-suara gagak yang kasak-kusuk sontak sepi. Mamring, miris. Kaaakkkk. Suara kak nya menggema.

“Kenapa kau tersisa ?” Suara raja gagak yang berat membuat barisan gagak di belakangnya sontak mematung, menunggu jawabanku. Angin bersuara membawa bau yang tak bisa aku mengerti. Bau busuk apa saja yang telah bersatu diusungnya. Bau yang membuat syaraf-syaraf hidungku memberat, seperti flu berat yang datang tiba-tiba dating tanpa pertanda. Kepak dan suara raja gagak membuatku kembali sadar, ia menuntut jawaban.

“Entah. Dimana ini ?” Seekor gagak yang paling dekat dengan raja gagak, membisikkan sesuatu.

“Darimana kau ?”

“Entah.” Beberapa gagak mulai bergerak, seperti tak sabar, akukah yang mereka tunggu ? Darah di kepalaku seolah berjalan lambat dan makin lambat. Beberapa yang lain usreg, gerah, mulai riuh bersuara. Kaaakkkk…… dua kepakan sayap raja gagak, membuat sebagian besar gagak terbang. Mungkin itu perintah agar mereka kembali bekerja seperti semula. Sebab banyak dari mereka yang langsung berebut barang untuk dimakan. Sebagian lagi memilih terbang berputar-putar, mungkin kembali memilih-milih. Ada beberapa gagak yang hinggap di cerobong asap pabrik yang tumbang. Mematuk-matuk batangan logam berat yang harusnya itu bukan makanan mereka. Sepertinya mereka makan apa saja.

Raja gagak tiba-tiba sudah disebelahku. “kau bukalah kerudungmu.”

“Kenapa ?”

“Teman-temanku tak suka kerudungmu.”

“Kenapa ?”

“Karena warnanya hitam mengkilat. Seperti bulu kami.”

“Tapi aku tak bermaksud menyamakan diri dengan kalian.”

“Darimana kau datang ?”

“Entah……….. Kapankah ini.” Kaakkkk…… Ups. Aku telah membuatnya marah. Beberapa gagak yang sedang asyik berebut makanan sejenak melihat ke arah kami, satu gagak yang dari tadi tak pernah menjauh dari raja gagak sontak melompat, terbang sejenak, lalu hinggap lagi di bongkah kepala manusia yang kulitnya sudah terkelupas disana-sini. Korban apa ini semua ?

Dua ekor gagak sedang berebut seonggok daging. Kepala raja gagak memberi tanda pada gagak-gagak yang berebut seonggok daging. Perlahan, dengan dada membusung mereka berdua menenteng onggokan daging yang sudah berbalut warna hitam, campuran darah dan tanah yang tak keruan. “Ini batang kemaluan laki-laki yang mati terakhir sambil menyebut nama, mungkin pasangannya.” Aku menyeringai jijik. “Dengar !” Dua ekor gagak yang berebut onggok daging itu bersuara seperti orang kegirangan. Terdengar suara yang aneh diantara aku, raja gagak dan dua ekor gagak itu. Suara yang bukan dari kami, suara yang sepertinya berasal dari daging kusam itu, suara kesakitan, desah yang menjijikkan, juga erangan-erangan, atau…… “Aku….” Belum selesai aku bicara raja gagak kembali mengarahkan pandangannya kearah yang lain. Seekor gagak mempunyai jakun bertumpuk. “Itu buah zakarnya yang ditelannya.” Aku masih belum paham benar dengan maksudnya. Tapi aku tak kenal dengan suara-suara itu. Aku tak tahu siapa laki-laki itu. Aku tak berkepentingan dengannya. “Hah ! Begitulah kalian, selalu merasa tak berkepentingan. Manusia…..”

Beberapa ekor gagak yang bertengger di bongkahan semacam cerobong asap yang berlobang dimana-mana segera terbang membawa tempat mereka bertengger. Ya, gagak-gagak itu mencengkeram tempat mereka bertengger untuk dibawa menghadap ke arah kami. Mata para gagak ini terlihat berbeda dengan mata dua ekor gagak tadi. Mata mereka memancarkan kebengisan dan ketidakberdayaan yang sekaligus. “Dengar”, begitu mereka dengar raja gagak bicara padaku, begitu pula mereka mulai mematuk bongkahan batang cerobong yang tersisa. Aku mendengar suara lain selain suara paruh mereka yang beradu dengan logam berat. Seperti desisan, ah, bukan, suara teriakan, dari jauh tapi, aku mencari-cari suara kejauhan, tapi tak menemukan manusia lain atau benda lain yang bergerak, selain aku dan para gagak. Ah, suara-suara jerit kesakitan, ah, juga suara-suara desah payah.

Raja gagak berjalan lagi, dan aku masih mengkutinya dari belakang. “Suara-suara yang terlalu susah untuk dibunyikan. Tak pernah ada telinga yang mau mendengar suara-suara itu. Termasuk telingamu.” Suara raja gagak memberat dan mengeras. Tapi aku memang tak pernah mendngara suara-suara itu. “Jangan membantah.” Suara itu, suara bentakan. Aku makin ciut, dirubung gagak-gagak yang tak semuanya sempurna. Ya, gagak-gagak itu tak semuanya sempurna. Tak seperti gagak –gagak yang pernah kukenal. Ada yang sebagaian paruhnya menyerupai hidung manusia. Ada yang separuh kakinya juga menyerupai kaki manusia. Makhluk apa ini ?

Tiba-tiba dari arah depan, seekor gagak yang berbadan agak kecil dari yang sebelumnya, membawa terbang sesuatu di paruhnya, hinggap tepat didepan kami. “Bos, ini batang leher termuda yang kutemukan.” Raja gagak hanya memandang. “Dengarkan bos, tolong bos, saya dibantu menaksir, kira-kira dia berumur berapa ?”, gagak ini matanya juling sebelah. Lalu paruhnya mulai mematuk, keluarlah suara seperti bayi yang lehernya tercekik, antara tangisan khas bayi dan kesakitan-kesakitan yang amat sangat, dan suara-suara seperti erangan.

Apakah ini neraka baru ? “Hmmm….. bukan. Kau jangan berpikir mati dulu.” Hah, bagaimana raja gagak ini tahu isi kepalaku. Bagaimana pula bisa terjadi aku mengerti apa yang dikatakannya. Jangan-jangan…… Siapa mereka ? “Ah, kau manusia, selalu suka mencari jalan pintas bila tak bias memecahkan masalah. Kalian selalu gemar menciptakan mitos. Primitif.” Tapi yang terhampar didepanku bukanlah peristiwa yang biasa. Ini bencana. “Ah, kalian manusia, suka sekali mengungkap segala yang luar biasa sebagai bencana.” Tiba-tiba seekor gagak hinggap di kepalaku, mencoba mencabik-cabik kepalaku. Aku mengelak, mencoba menghindar, tapi yang datang makin banyak. “Hmm…. Mereka melihat hitam diisi kepalamu. Kain kerudungmu mengalahkan hitam dikepalamu.”

“Hentikan ! Hentikan ! Kumohon !” Aku kesulitan menyuruh mereka pergi.

“Kumohon…!”

“Hmmm…. bukankah kau punya Tuhan ? Memohonlah padaNya.”

“Aku tak bisa….”

“Kenapa ?”

“Entahlah. Jangan berdebat, suruh anak buahmu berhenti menyerangku.”

“Bukan aku yang menyuruh mereka. Mereka berkehendak sendiri. Bukan aku yang menggerakkan mereka.”

“Apa yang kalian lakukan ?” Tiba-tiba gagak-gagak itu riuh, seperti sedang pesta mengamatiku. Aku seperti seorang penari telanjang, yang ingin segera mereka jamah, ah, bukan. Aku seperti santapan terlezat mereka.

“Calon korban.”

“Bukan, calon kita.”

“Hahahahahahahahaha…….” Suara-suara mereka begitu mengerikan sekaligus menjijikkan.

“Kumohon!!”

“Sudah kubilang kau teramat manusia.” Lalu raja gagak itu pergi. Keparat, kenapa dia berlaku kurang ajar padaku. Aku manusia, masakan aku kalah dengan mereka yang hanya burung-burung.

“Sudah kubilang, kau terlalu manusia sehingga menjadi tuhan. Lihatlah, semua yang disekitarmu adalah ketuhanan kalian yang kalian ciptakan sendiri.” Sambil terbang berputar-putar si raja gagak hanya mengamati semua yang terjadi di bawahnya. Bangsat ! Tuhan ! Tolong aku. Bukan aku yang ikut-ikutan berbuat seperti yang sekarang terjadi. Aku tak tak tahu apa-apa.

“Kau bahkan berani menyejajarkan Tuhanmu dengan umpatanmu.”

Si raja gagak tertawa terbahak-bahak.”Ingat, diammu juga ikut membuat sesuatu.” Dia masih melayang-layang semakin tinggi.

“Mungkin menurut mereka kau tak pantas menjadi manusia. Kau adalah mereka. Bersiap-siaplah.” Apa yang akan terjadi ? Apakah aku akan dijadikan gagak juga ? Tidak ! Aku tak ingin menjadi gagak.

“Hei ! Aku masih manusia ! Aku masih ingin menjadi manusia.”

“Tak tahu malu !” Raja gagak makin tinggi, tapi kenapa suaranya masih saja terdengar begitu hebat.

“Yang kau dengar tadi bukan khayalan ! Itulah suara-suara yang tak pernah kalian dengarkan benar-benar. Animal instinct kalian lebih parah dari kami.” Dia makin hilang dariku.

Si Woer

(Seperti menjemput bencana)

2006 – 2007