Kala itu

Aku saksikan kebesaranMu melalakku

Padahal biasanya, ingkar yang menyamar

Akrab selalu berbisik mesra di telinga

Aku digetar cinta yang membahana

Disemi ampunan yang tiba-tiba menyeruak

Antara alpa, dosa dan khianat

Antara alpa, dosa dan khianat,

Maka bertanyalah hatiku ;

Kini dimana kau kan berpijak ?

Kini kepada siapa kau berseru ?

Kini suara apa yang kau teriak ?

Kini kau sedang menuju

Robmu yang Maha Agung

Hingga getarannya tak mungkin lagi terkhianati,

Maka ketika manusia bicara setia,

Kini dimanakah ia ?

Maka ketika manusia bicara cinta,

Apakah benar adanya ?

Bukankah Akulah sang Cinta

Bukankah Akulah sang Setia

Bukankah Akulah sang Maha

Maka apakah kau wahai manusia

Bukankah banyak sudah Kuasa

Aku ceritakan lewat bencana dan derita saudara-saudara kalian

Bukankah Cinta dan Setia selalu aku ceritakan lewat tragedy demi tragedy

Dari masa ke masa

Maka siapakah kau manusia

Hingga semena-mena menampar muka Kuasa sang Maha

Maka rasalah cinta dan setia yang kau janji-janjikan manusia, kini hadapkanlah padaKu

Sang Maha Cinta, Sang Maha Setia

Ruh Ila Ruh

S.A. 07/01/05

Di tengah lautan manusiaMu

Di tengah lautan manusiaMu

Tiada lain selain takjub atas Kuasa

Melihat tiap kehendak yang jelma

Dalam riuh keinginan tiap hati dan kepala

Bergerak bersama

Di tengah lautan manusiaMu

Seolah terimaji seringai-seringai dunia

Yang berkejaran pada tiap jengkal lantai maghfirohMu

Maka tak pelak, SUBHANALLAH

Di tengah lautan manusiaMu

Tiap gerak jelma Maha KuasaMu

Di tengah lautan manusiaMu

Yang berbondong memilih tempat terbaik di waktu terbaik demi mencapaiMu

Demi kau dengar rintih ratap tiap hati

Demi sontak teriak tiap air mata yang hambur pula menujuMu

Trans kami padaMu

Segala puja, aneka rupa, setiap desakan-desakan hendak menujuMu

Trans kami padaMu, mati tak mati, sadar tak sadar, berdiri, takbirku, ijtihad kami ruku’,

Sholawat kami, untuk RasolMu

antara sujud, kami pasrah padaMu

Rob, hatiku padaMu, terimalah tiap pujaku yang selama ini ternoda,

maka bersihkanlah

dan bersihkanlah

dunia dari ujung-ujung jari mati hati kami

dunia dari pandang mata materi

dunia dari langkah-langkah kaki mati

dunia dari gerak dan bibir mati

dunia dari detak-detak hati mati dunia dariku

duniaku kehendakMu, bersihkanlah

Antara shof-shof

Di petak-petak yang tersisa,

Kaki dan tangan yang mencari tempat berebut leluasa,

Untuk takzim,

Untuk tunduk,

Meski hati setengah merengut,

Setengah menggerutu,

Mengomel ulah umat yang brutal berebut rahmat

Inikah indikasi cinta yang Kau kabarkan kepada kami ?

Seperti kulik-kulik burung entah saat sebelum adzan subuh pertama dikumandang,

Seperti ia sedang mengejek;

Lihat mereka yang saling sikut berebut sujud,

Nanti kabarkan pada anak kalian supaya menyaksikan dengan ibadah

Atau ibadah dengan menyaksikan

Supaya tak merugi seperti mereka

Maka tengoklah,

Apa kata mereka bila dibilang bersaudara dalam agama

Hanya berbekal kuat dalam memegang janji-janji saja

Tapi untuk menepatinya, entah

Seperti lantai yang kadang terasa mengejek saat becek banjir menyerang

Semua pada tunggang langgang

Aih, aih,

Maka dimana brutal kalian yang saling menyingkirkan saudara

Demi berebut rahmat dan nikmat namun lelauasa beradu mata,

Aih…..

Tapi jangan salah

Diatas menara sana

2 elang di saat duha,

yang satu hinggap di pucuknya berbincang renyah;

lihat, wajah-wajah pasrah dalam ibadah

ikhlas mereka terpancar dari mata-mata teduh nan indah

AKU DARI SINI MENYAKSIKANNYA

Lihat tubuh-tubuh lunglai yang lemah

Bersedekah tempat pada sesama

Inilah lapang hati yang senantiasa ia bawa-bawa

Inilah dia luas pandang yang mereka sandang di tubuh-tubuh yang nyatu

Sementara pagar-pagar besi meruncing menyaksikan aneka dunia tertitip padanya

Apa lagi ? inilah puncak khawatir dunia mereka berakhir

Padahal bukankah sudah dijamin adanya

Padahal bukankah sudah dibilang dimuka

Bahwa tiba saatnya mereka tamu yang dijamu

Pastilah dijaga, pastilah tak teraniaya

Atau karena hati yang tak henti bercuriga

Ah, tidak juga.

Gerbang-gerbang masih pula menyaksikan kepasrahan diletakkan pelan dan pasti

Setakzim bibir dan hati yang seirama berkhalwat, bertahmid, dan bersholawat

Ah, mereka tamu-tamu yang menyatu

Dalam suara seru

Inilah tamu-tamu yang yakin dengan jaminanMu

Maka mulialah dan agung serta megahlah Ka’bah

Sebagaimana kemuliaan yang menyertai orang-orang yang memuliakan dan mengagungkannya

Maka pada merekalah jua segala do’a telah tercurah dan kembali mulia

24/01/05

duhai hatiku

tak ada yang bisa kutawarkan lagi padamu hatiku,

saat aku kau ajak merasai kerinduanmu menemuiNya

kepuasan apalagi yang bisa kutawarkan untukmu hatiku ?

kala kau jumpai rumahmu lagi setelah kelana tak tentu arahku

sebagai dosa dariku yang senantiasa menyertamu tanpa jera

tak ada bisa kutawarkan lagi persemayaman yang tiada sepi, tiada ramai

namun hening, bening dan takzim,

selain rumah sang Kekasih yang lama kau tinggal pergi

cinta yang kau bawa-bawa bersama kesetiaan yang masih sering teraniaya,

kini sirna

berapa lama sudah ia bertahan

berapa lama sudah ia memuja

berapa lama ia meratap sudah

aku nglangut

dipagut hati yang larut

merasai ia kembali

pada semestanya

aku sang tubuh

penawar aniaya-aniaya semu

yang selalu berkedok cia bersama kesetiaan yang masih sering teraniaya, tinggal perginta

kini lungkrah tak berdaya

Sajak cinta di tengah-tengah

Hon, hari ini aku kangen padamu

Nduku, aku kangen mengajakmu

Mengadukan hati yang lama membualkan tuntutan-tuntutan antara cinta kita

Yang sampai kini sempat mengelak-elak menyentuh pemilikNya

Apa lagi canduku ?

Aku pingin mengajakmu pulang

Sejenak mencapai detak dari segala detak

Apa lagi canduku ?

Adakah waktu untuk kita

Berpadu dalam setiap detak jantung hati kita

Ah, jangan-jangan pura-pura,

Mudah-mudahan bukan.

menjelang wukuf

Pundung-pundung air mata hati ini

kini disini Kau hadapkan kembali

Kembali yang bukan mati

Seperti magnet, hati didiri kami,

Larut magut dalam langutMu

Ia rontokkan tiap pengkhianatan yang kami semai pelan tapi pasti

Disetiap isi detak dan jenak tarikan nafas yang juga titipanMu Rob

Kini ia menujuMu

Mengadu,

Berseru,

Bilaslah,

Bilaslah lagi ia

Pun tiap mikro sel di tubuh-tubuh yang melompong hanya sanggup berbondong,

Berebut, saling sikut, saling hanyut,

Demi mencapaiMu Rob

Aku, juga mereka, punya yang sama

getarMu maha dahsyat, tak terelak

duhai Rob, sang Maha Menjaga

jalankan jagaku senantiasa

dalam jenak-jenak CahayaMu

dalam jenak-jenak memujaMu

dalam jenak-jenak karuniaMu

dalam jenak-jenak beningMu

dalam jenak-jenak nafas yang tak tahu kapan Kau minta ia kembali

Si Woer