Tommy Hadi Wijaya : Pernah aktif di kelompok CAGER 2001-2006, Mahasiswa UNTAG (PSIKOLOGI), Karyawan.

Tepat jam delapan malam aku berada berada di sebuah kota kecil, tepatnya di selat sunda. Yang aku tau, kota itu penuh dengan aura ketidak jujuran baik itu pekerjaan, hobby, pendidikan, pemerintahan, dan yang paling parah adalah ketidak jujuran terhadap diri sendiri. Wah……….., alangkah bahagianya aku saat mendapat informasi bahwa kota itu terkenal pula dengan nasi uduknya yang khas. Meskipun bulum cukup dikenal di indonesia, namun, makanan itu sudah cukup basi dibicarakan orang – orang dikota tersebut.

Pucuk dicinta nasipun tiba. Itulah ungkapan yang tepat untuk menuangkan isi hatiku. Maklumlah, perutku sudah cukup gemuk untuk terisi angin. “ gruuuk”……”grukkkk”….. wah,…… alarem dalam perutku sudah berbunyai berkaili – kali, itu adalah pertanda bahwa perutku sudah mulai lapar diantara orang – orang yang lapar. Selain itu, kerongkonganku sudah sangat gersang bagai sawah tanpa pengairan selama setahun. Astaga, aku sendiri hampir tidak mampu untuk membayangkan hal tersebut. Atau hanya keadaan saja yang aku dramatisir.

“Darmaji, ayo kita makan! Rasanya perutku sudah takmampu menanggung derita ini”. Aku mulai membuka ajakan untuk menunda perjalanan sejenak untuk memanjakan perutku.

“Sabar Dif, masih banyak waktu untuk melakukan hal macam itu, tenanglah sedikit”?

“Berengsek kau, kalian mungkin tahan dengan suasana yang seperti ini? Tapi aku! Liur dimulutkupun sudah cukup kering untuk ku telan, apalagi perutku?

Setelah melalui debat yang sangat sengit, akhirnya kami sepakat untuk mampir sejenak di sebuah warung yang paling enak di kota ini. Kurang lehih jaraknya tinggal 5 km dari tempat kami sekarang.

“Mau makan nasi Jogja, sunda” bukan berarti haruske Jogja, cukup ada disini hanya ditempat ini kita tinggal meniknati”.

Lagu itu selalu kami lantunkan untuk menemani perjalanan kami menuju warung yang akan kita singgahi. Betapa nikmatnya, mobil melaju diiringi nyanyian dan musik yang kami karang sendiri. Akupun terbawa dalam suasana sampai tak terasa aku telah menggeleng – gelengkan kepala disertai memejamkan mata.

Setelah beberapa lama, kutengok dari kaca mobil kearah kana dan kiri. “ Surga”….. aku menyeru kata itu ker ulangkali dalam hati karena tampak olehku warung – warung nasi udug yang berjajar rata dengan slogannya yang berbeda – beda bagaikan tentara pembela bangsa. Takterasa, liur yang tadinya kering, kini menetes di pangkuanku.

Setelah beberapa menit kami melaju, sasampailah kami pada sebuah gang kecil berukuran dua meter denga tulisan “mampir kang” di kanan atasnya.

“Mateus, kamu yang pesanya?” Ujang mencoba memerintah. Namun, mateus menolak perintah si Ujang dengan beberapa alasan. Beberapa menit telah berlalu. Namun masih belum ada keputusan siapa yang akan memesan nasi uduk untuk sarapan kami. Sampai akhirnya kami mengambil keputusan untuk mengundi siapa yang harus berangkat menuju warung di ujung jalan itu.Wah, aku mulai curiga, ada fenomena apa di warung tersebut? Sambil sok berwibawah, aku mengintrogasi mereka berdua untuk mencari informasi tentang warung tersebut. Tobel – tobel anak kadal, ternyata fenomena yang tersembunyi adalah bahwa penjaga warung di ujung gan itu tak lain adalah beti alias bencong tititan. Sumpah aku langsung merinding dan meriang.

“Oke kalau gitu kita bikin kesepakatan. Bagaimana?” Darmaji mulai menawarkan penyelesaian masalah ini.

“ Kalau gitu, kita undi saja antara kita berempat.” Akhirnya, kami sepakat untuk mengundi dengan konsekwensi yang namanya keluar harus memesan nasi uduk ke warung di ujung gang itu. Waduh, jantung yang tadinya tegang kini semakin tegang kuadrat alias super tegang. Sambil berkeringat, aku mulai menyesuaikan diri dengan permainan.

Aku mengulurkan tangan untuk mengambil kertas undian dengan harapan semoga bukan aku yang terpilih. Sebelum aku membuka mata dan kertas yang telah ada di ujung jemariku, aku menyempatkan diri untuk berdoa. Segala macam mantra tolak balak aku ucapkan. Berbagai macam surat mulai dari al fatikha sampai yassin aku kumandangkan. Tapi dasar apes, akujuga yang terpilih. Sebagai orang yang bijak, aku harus menepati kesepakatan itu. Dengan nyali yang ciut, aku melangkah sambil sesekali menoleh kebelakang.

“Si akang anu kasep, mau pesan apa ?”

Waduh, belum sampai tempat tujuan sudah dihadang banyak ujian. Suasana yang berbeda pada hari – hariku kini mulai terasa. Akhirnya aku menyaksikan sendiri pemandanga yang dikatakan orang fatamorgana sehingga membuat mata kasatku berari-air. Sepuluh meter kedepan terlihat dengan jelas para beti atau waria dengan bermacam – macam make up. Ada yang mengikuti gaya ledyday, madona, sandra dewi, sampai mak bongki. Mereka mulai menghampiri aku satu persatu guna menawarkan diri untuk…….

“YaTuhan, tolong kirimkan malaikat unuk melindungi aku atau masa depanku akan suram” doaku dalam hati

“Bang, nasi uduknya empat “ aku mulai memesan dengan suara yang agak serak – serak karena gerogi.

“ Kok panggil bang sih, panggil neng dong?’

Mama, aku merinding tinggi sampai – sampai mencapai tegangan 600.000 volt. Sesaat kemudian, terdengan bisikan dalam hatiku “ayo lari, dari pada mereka merenggut kejantananmu”

Rasa lapar yang tadi membelenggu dan menggerutu untuk dipenuhi keinginannya dengan sekejap hilang. Bahkan liur yang tadinya kering kerontang, kini menjadi garang. Selain itu, klaminku takkuasa menahan desahan banjir didalamnya. Akhirnya akupun ……..(ngompol).

Sesaat kemudian terlintas pikiran khubilai kan dalam strateginya untuk mempertahankan diri. Ia berkata “ sebelum kau dianiaya, keluarkan jurus pamungkasmu”. Aku sadar bahwa satu – satunya jurus pamungkas yang aku punya dalam dalam kondisi darurat seperti ini adalah langkah seribu alias kaaabuuur…

Sontak aku berteriak “ Nasi uduk empat dengan ikan ayam dan tolong diantar ke depan gang”! sambil berlari. …..