”Mempertimbangkan Kembali Apa yang Terjadi”

DASAR PEMIKIRAN

Reformasi diproklamasikan sesaat setelah Soeharto lengser. Usianya tergolong masih puber belum dewasa, tetapi dari kandungannya telah melahirkan anak-anak perubahan hasil perkawinan berbagai budaya dunia, sehingga identitas anak kandung negeri ini sebagai bangsa berbudi santun, luhur, beradab, religius, saling menghormati dan menghargai semakin termarjinalisasi.

Derajat kemanusiaan melorot tajam. Konflik horizontal tidak lagi dipicu karena perbedaan antar pemeluk agama tetapi konflik sudah bergeser dengan sesama penganut agama. Tawuran tidak hanya terjadi pada masyarakat awam dan primitif tetapi masyarakat metropolitan sudah membangun tradisi itu sejak lama, bahkan masyarakat intelektual dan akademisi juga ikut memainkannya. Bentrok antara masyarakat sipil dan militer sudah bergeser dari persoalan politik kekuasaan ke persoalan sengketa hak kepemilikan atas tanah, dan tidak mau tertinggal wakil rakyat kita selain bentrok secara fisik, konflik politik mengakibatkan para legislator jatuh berguguran di depan hukum.

Libelarisasi dan kapitalisasi ekonomi membuat masyarakat jadi konsumeris serba fastfood.  Gaya hidup cepat saji merangsang semuanya tumbuh serpa cepat. Padi diobati dan diberi pupuk kimia agar cepat dipanen, sapi diberi multivitamin agar cepat gemuk, ayam dijejali makanan kimia agar dalam sebulan lebih sedikit sudah bisa dikonsumsi, anak-anak dirangsang dengan obat-obatan, vitamin dan mineral agar cepat bongsor bahkan pola pikirnya dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Buah-buahan seperti papaya, durian, jeruk, jambu, apel  dan lainnya dimanipulasi dengan rekaya genetika, sehingga pohon dapat berbuah sepanjang musim, besar dan dan enak rasanya. Dari sisi ekonomi kapitalis, makanan yang diproses melalui rekayasa kimiawi mendatangkan untung besar bagi produsen, karena biaya produksinya murah, sementara konsumen dapat membeli barang bagus juga berharga murah. Padahal perlu dicatat, timbulnya berbagai penyakit degeneratif yang mulai diderita orang berusia muda seperti kanker, gagal ginjal, diabetes, jantung dan lainnya banyak disebabkan seringnya mengkonsumsi makanan hasil manipulasi kimiawi itu.

Peradaban manipulasi itu begitu kuat pengaruhnya di Indonesia ini. Gayus Tambunan adalah manipulator unggulan Kantor Ditjen Pajak. Penyidik sekelas jenderal sampai tamtama dibuatnya bertekuk lutut, bahkan jaksa andalan Kejaksaan Agung berhasil diseret menjadi manipulator rencana tuntutan. Di kalangan politisi,  perolehan kekayaan hasil manipulasi proyek bukan lagi berita istimewa, begitu pula di dunia pendidikan yang sampai saat ini sulit memutus mata rantai gerakan manipulasi nilai ujian nasional. Masyarakat yang tidak ikut menjadi anggota gerombolan pembohong di dunia pendidikan itu dianggap pengkhianat dan harus dihukum dengan teror-teror  mental yang menyakitkan.

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar, apakah termasuk korban manipulasi data dan informasi sehingga dia harus menjalani sisa hidupnya di penjara? Tidak terhitung jumlah hakim yang berhasil ditangkapi KPK karena diajak klien untuk memanipulasi fakta persidangan, juga tidak terhitung jumlah menteri, gubernur, bupati/walikota/anggota DPR/DPRD dan birokrat serta kontraktor yang menjadi narapidana akibat perbuatannya memanipulasi anggaran.

Dalam bidang agama, dalil-dalil agama dimanipulasi untuk bisa mengebom pusat-pusat kemaksiatan, dan dalil-dalil agama juga dimanipulasi agar terjadi konflik horizontal sesama pemeluk agama. Tokoh agama, ulama, kiai dan ustadz secara gradual tidak akan menjadi pusat kekuatan politik dan sosial akibat kecanggihan rekayasa dan manipulasi opini yang busuk.

Trend manipulasi sudah menjadi gaya hidup masyarakat modern yang membudayakan hidup serba cepat. Makan di KFC, Mc. D, minum coca cola, minum coffe di Starbuck bukan karena memang rasanya enak dan lezat serta minumannya sehat dan menyegarkan, tetapi karena arus modernitas berhasil memanipulasi keinginan menjadi kebutuhan dalam bungkus yang cantik dan indah.

Membungkus barang bersifat ‘merusak’ dengan kemasan canggih adalah upaya untuk memanipulasi makna sebenarnya menjadi tidak senyatanya, dan celakanya yang tidak senyatanya itu lebih dipercaya. Makanan berbahan pengawet dan mengandung penyedap MSG lebih dipercaya untuk dikonsumsi anak-anak sampai orang dewasa, padahal sulit dipercaya berbagai jenis makanan itu menyehatkan, tetapi kita tetap mengonsumsinya karena kita percaya itu adalah deposito penyakit masa depan kita.

Teknologi modern membuat manusia bagai kuda troya, kekuatan fisik dan nofisiknya dipacu sekeras-kerasnya agar dapat meraih kekayaan material lebih cepat, sementara kekayaan batinnya dari hari ke hari merosot pada derajat yang serendah-rendahnya tidak lagi menduduki mahluk yang fii ahsani taqwim tetapi terperosok dalam asfala safiliin. Dengan kecanggihan teknologi, seharusnya tidak menjadikan manusia despiritualis, sebab dengan bertadarus sambil membaca, memahami, menghayati serta berpikir bahwa semuanya itu adalah ayat-ayat  Tuhan yang akan membuka jalan seluas-luasnya kepada manusia untuk mengimani atas kebesaran Allah.